4 Februari, Hari Kanker Sedunia 2017

229 views

oleh: DR. Dr. FX. Wikan Indarto, SpA *)

 

Setiap tahun pada tanggal 4 Februari, WHO, IARC (International Agency for Research on Cancer) dan UICC (Union for Cancer International Control) merayakan Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), untuk mempromosikan cara meringankan beban global atas penyakit kanker. Apa yang sebaiknya kita ketahui?

Kanker adalah pertumbuhan dan penyebaran sel yang tidak terkendali, yang dapat mengenai hampir semua bagian organ tubuh. Pertumbuhan sel tersebut sering mendesak jaringan di sekitarnya dan dapat menyebar atau bermetastasis ke organ lain di tempat yang jauh. Banyak kanker dapat dicegah dengan menghindari paparan faktor risiko umum, seperti asap tembakau. Selain itu, proporsi besar yang signifikan dari kanker sudah dapat disembuhkan, dengan tindakan operasi, radioterapi dan kemoterapi, terutama jika kanker terdeteksi secara dini.

Tema kampanye dengan tagline ‘Kita bisa. Aku bisa’ akan memotivasi bagaimana setiap orang, dalam komunitas ataupun sebagai individu, dapat melakukan peran dalam bagian mereka, untuk mengurangi beban global penyakit kanker. Kanker adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, mencapai 8,2 juta kematian pada tahun 2012. Data prevalensi kanker pada Riskesdas tahun 2013 yang tertinggi adalah di DI Yogyakarta (4,1‰), kemudian Jawa Tengah (2,1‰), dan Bali (2,0‰). Sedangkan prevalensi terendah terdapat di Provinsi Gorontalo (0,2‰), disusul oleh Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat (0,6‰).

Kanker paru, hati, usus besar dan payudara merupakan penyebab sebagian besar kematian terkait kanker setiap tahun. Sekitar 30% dari kematian akibat kanker tersebut, berhubungan dengan lima faktor risiko, yaitu obesitas, perokok, peminum alkohol, menu harian rendah buah dan sayuran, serta kurangnya aktivitas fisik. Perokok merupakan faktor risiko yang paling penting dan terbukti menyebabkan 22% kematian akibat kanker secara global dan 71% dari kematian akibat kanker paru-paru.

Kanker menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, dengan sekitar 14 juta kasus baru dan 8,2 juta kanker terkait kematian pada tahun 2012. Jumlah kasus baru diperkirakan akan meningkat sekitar 70% selama 2 dekade mendatang. Pada pria, 5 kanker yang paling umum adalah paru-paru, prostat, colorectum, perut, dan hati. Pada wanita, 5 kanker yang paling umum adalah payudara, colorectum, paru-paru, leher rahim, dan usus. Pada anak, 5 kanker yang paling umum adalah darah (leukemia), mata  (retinoblastoma), ginjal  (nefroblastoma), saraf (neuroblastoma), dan tulang (osteosarkoma).

Lebih dari 60% dari total kasus baru kanker di dunia terjadi di Afrika, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Amerika Tengah dan juga Selatan. Kanker di wilayah tersebut menyebabkan 70% kematian akibat kanker di seluruh dunia. Penyebab paling umum kematian adalah kanker paru (1,59 juta), hati (745.000), perut (723.000), usus besar atau kolorektal (694.000), payudara (521.000), kerongkongan atau esofagus (400.000). Diprediksi kasus kanker tahunan akan meningkat dari 14 juta pada dekade 2012-22 dalam 2 dekade berikutnya.

Kanker dapat dikurangi dan dikendalikan dengan menerapkan beberapa strategi berbasis bukti untuk pencegahan, deteksi dini dan tatalaksana pasien dengan kanker. Pencegahan dilakukan dengan memodifikasi dan menghindari faktor risiko. Banyak kanker memiliki kesempatan yang tinggi untuk sembuh, jika terdeteksi dini dan diobati secara memadai. Selain itu, lebih dari 30% kematian akibat kanker dapat dicegah dengan memodifikasi atau menghindari faktor risiko utama. Tindakan yang diperlukan mencakup berhenti merokok, koreksi kelebihan berat badan, diet yang sehat dengan meningkatkan buah dan sayuran, serta melakukan aktivitas fisik. Selain itu, juga menghentikan penggunaan alkohol, menghindari infeksi  yang menular secara seksual, menghindari infeksi oleh HBV, radiasi pengion dan non-pengion serta menghindari pencemaran udara perkotaan, asap dalam ruangan dari penggunaan bahan bakar padat rumah tangga. Strategi pencegahan lainnya meliputi vaksinasi terhadap virus papiloma manusia (HPV) dan virus hepatitis B (HBV), pengendalian bahaya di tempat kerja, mengurangi paparan radiasi non-pengion terutama sinar matahari dan radiasi pengion oleh alat pencitraan diagnostik medis.

Kematian kanker dapat dikurangi jika kasus terdeteksi dan diobati secara dini. Program pencegahan kanker dilakukan untuk semua jenis kanker, tetapi saat ini masih diprioritaskan pada dua jenis kanker tertinggi di Indonesia yaitu kanker leher rahim dan kanker payudara. Kegiatan yang dilakukan meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dilakukan melalui pengendalian faktor risiko dan peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini dan tatalaksana yang dilakukan di Puskesmas dan rujukan ke rumah sakit. Deteksi dini kanker leher rahim menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan krioterapi untuk IVA (lesi pra kanker leher rahim) positif, sedangkan deteksi dini kanker payudara menggunakan metode Clinical Breast Examiniation (CBE). Sampai tahun 2015 lalu, telah diskrining sebanyak 644.951 perempuan atau 1,75% dari target perempuan usia 30-50 tahun, dengan hasil 28.850 (4,47%) IVA positif, curiga kanker leher rahim 840 (1,3 per 1000), dan benjolan pada payudara 1.682 (2,6 per 1000).

Pencegahan tersier dilakukan melalui perawatan paliatif dan rehabilitatif di unit-unit pelayanan kesehatan yang menangani kanker dan pembentukan kelompok survivor kanker di masyarakat.  Perawatan paliatif adalah perawatan untuk meringankan, bukan menyembuhkan, berbagai gejala klinis yang disebabkan oleh kanker. Perawatan paliatif dapat membantu agar penderita kanker dapat hidup lebih nyaman. Hal ini terutama diperlukan oleh pasien dalam kanker stadium lanjut, di mana hanya ada sedikit kesempatan untuk sembuh. Bantuan yang diberikan untuk masalah fisik, psikososial dan spiritual, ditargetkan dapat mencapai lebih dari 90% pasien kanker stadium lanjut. Peningkatan penggunaan obat narkotik, seperti morfin adalah hal yang wajib untuk pengobatan nyeri kanker yang sedang sampai parah, yang dialami oleh lebih dari 80% pasien kanker di fase terminal.

Momentum Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) setiap tahun pada tanggal 4 Februari, adalah ajakan WHO, IARC (International Agency for Research on Cancer) dan UICC (Union for Cancer International Control) untuk meningkatkan kepedulian kita semua akan kanker, sesuai tagline ‘Kita bisa. Aku bisa’. Apakah kita sudah bertindak?

 

*) DR. Dr. FX. Wikan Indarto, SpA adalah Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

Posting Terkait