Bisa Jadi Korban Tewas Saat Melakukan Fantasi Seks Menyimpang

615 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Sampai saat ini belum diketahui penyebab tewasnya Sodirin (23) dengan kondisi kemaluan terikat dengan tali yang menyatu ke leher dan digantung ke pentilasi jendela. Apakah korban tewas karena bunuh diri atau dibunuh belum ada titik terang.

Namun ada yang menyebutkan bahwa korban selama ini mengalami kelainan seks, sehingga besar dugaan korban tewas karena mencoba melakukan kepuasan dengan gaya yang lain. Namun kemudian berakibat fatal bagi dirinya.

Soal kelainan seks yang diderita korban ini dibenarkan Hendro teman kos korban yang juga karyawan di AA Catering ini. “Keluarganya bilang sama saya kalau Sondirin mempunyai kelainan seks. Dia juga bilang kalau korban dulunya pernah mencoba bunuh diri dengan perilaku seksnya yang menyimpang,” ujar Hendro.

Perilaku aneh Sodirin ini memang sering ditemui teman-temannya, terutma pada saat korban berada di kamar mandi. “Biasanya kalau ia masuk ke kamar mandi itu bisa berjam-jam, kami kadang heran entah apa yang korban lakukan disana,” tambah Hendro, yang menyebutkan di HP korban juga banyak tersimpan gambar-gambar porno.

Dibalik kelainan seks-nya itu, ternyata di dalam kehidupan sehari-hari Sandiri merupakan sosok pria yang ramah dan pendiam. Selain itu ia juga dikenal seorang pria yang perhatian terhadap keluarga. Ini terlihat sebagian hasil gaji perbulannya selalu diberikan kepada kakaknya.

Salah seorang Psikolog, Andarma Muryanti S.PSI.PSI yang dihubungi wartawan soal kelainan seks yang dialami korban mengatakan, ”sebenarnya bukan seks yang menimbulkan gangguan jiwa, namun prilakunya itu yang menyebabkan gangguan jiwa,”ujar wanita berjilbab itu.

Kelainan seks yang dilakuakan Sandiri tersebut Onani atau Masturbasi yang artinya melakukan seks seorang diri, bukan kepada orang lain. “Tapi kebanyakan Masturbasi itu banyak dilakukan oleh kaum pria,” ujarnya.

Disebutkannya, orang yang melakukan seks hanya kepada diri sendiri biasanya dilatarbelakangi atas dasar, percaya diri yang kurang.

Selain itu, dikarenakan adanya rasa bersalah dan berdosa jika dilakukannya kepada orang lain. “Bisa juga jika dilakukannya dengan orang lain dia takut terkena penyakit, makanya hanya dilampisakannya seorang diri,” sebut wanita yang berkantor di RSJ Tampan ini.

Dengan tewas korban cara demikian, Andarma berpendapat, mungkin dengan cara itu bisa lebih memuaskan nafsunya. Namun perbuatannya itu fatal, hingga akhirnya tewas. “Cara yang biasa yang dilakukan mungkin dia tidak puas. Makanya dengan cara lain, namun kebablasan,” paparnya.

Selain itu, korban juga tidak kontrol diri, saat nafsunya lagi tinggi. Dalam kasus ini korban tidak berhasil melewati fase perkembangan, makanya prilaku korban tidak normal. ”Artinya fase pubertasi korban tidak berhasil,” sebutnya.(q)

 

Posting Terkait