BKPBM Gelar Diskusi Panel dan Penyerahan Hadiah LKTI

525 views
news4408PEKANBARU (RiauInfo) – Setelah panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 2007 mengumumkan secara resmi para jawaranya pada 4 Maret 2008 lalu, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mengadakan diskusi panel pada Senin sore (24/03/2008), pukul 15.00—18.00 WIB. Diskusi ini merupakan wujud apresiasi konkret BKPBM, sebagai induk MelayuOnline.com, kepada para jawara LKTI. Hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. Sjafri Sairin, M.A. (konsultan MelayuOnline.com-Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, UGM), Ir. Said Fadillah, dan beberapa tokoh Melayu dan mahasiswa di Yogyakarta.

Sebelum masuk pada acara inti, yakni diskusi panel, acara ini dibuka oleh Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M. (selaku Pemangku BKPBM/Pimpinan Umum MelayuOnline.com). Mahyudin menyampaikan secara sepintas alasan menyelenggarakan LKTI dan mengapa melontarkan tema ‘Pandangan Politik Orang Melayu‘.

Pertama, kebudayaan Melayu di masa lampau mampu tumbuh-kembang dan berjaya melalui tradisi tulis-menulisnya. Kedua, adanya fakta di negeri ini bahwa sebagian besar orang melakoni praktik-praktik politik dengan berbagai macam cara hanya untuk memenuhi ambisi kekuasaan saja tanpa memperhatikan nilai-nilai luhur.

”Sesungguhnya ada nilai-nilai tertentu dari kultur Melayu yang sekiranya dapat dijadikan acuan bagaimana cara berpolitik yang santun. Oleh karenanya, melalui tema LKTI ini, tulisan-tulisan yang telah masuk diharapkan dapat memberikan sumbangsih positif bagi perkembangan politik di Indonesia,” tambah Mahyudin.

Diskusi yang dipandu oleh Hatib Abdul-Kadir, S.Ant. ini terbagi dalam dua sesi, yakni presentasi karya tulis para pemenang LKTI dan tanya-jawab. Imam Mustofa, S.H.I (juara ketiga) diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan hasil studinya yang berjudul “Meneladani Etika Politik Melayu”.

Ia menjelaskan bahwa pemikiran politik Raja Ali Haji masih relevan untuk diaplikasikan ke dalam model pemerintahan negara Indonesia di masa kini.

Selanjutnya, Ary Budianto, M.A. (pemenang kedua) mempresentasikan makalahnya dengan judul “Menyoal Arah Politik Kebudayaan Melayu: Pertelingkahan Politik Kebudayaan Islam dan Melayu di Nusantara”.
Dalam kesempatan tersebut ia mencoba untuk melihat persinggungan antara Islam dan budaya Melayu di dalam dua negara, Indonesia dan Malaysia. Ia berpendapat bahwa Malaysia telah menjadikan Islam sebagai agama resmi, sehingga menjadi identitas politik yang kuat. Sementara di Indonesia, Islam hanya sebagai identitas kultural.

Terakhir, Muhammad Endy Saputro, M.A. (pemenang pertama) berbicara tentang konsep identitas kemelayuan yang terkristalisasi dalam kata ‘kami‘ dan ‘kita‘. Ia menyatakan bahwa dua kata tersebut melambangkan makna kosmologi sebuah bangsa. Secara paradigmatis, Muhammad Endy mengatakan bahwa kata ‘kami‘ memiliki makna yang lebih primordial dibandingkan dengan kata ‘kita‘ yang cenderung bernuansa multikultural.

Oleh karenanya, kata ‘kami‘ merupakan representasi dari cara berpikir dengan paradigma etnisitas, dalam hal ini ialah bangsa Melayu. Sedangkan, makna pada kata ‘kita‘ lebih mewakili sikap-sikap yang tegas dalam konteks kehidupan bernegara (Indonesia) yang beragam.

Acara ini dipungkasi dengan penyerahan hadiah. Pemenang pertama berhak atas uang tunai sebesar Rp 10.000.000, tropi Gubernur Riau, dan piagam penghargaan yang diserahkan oleh Mahyudin yang mewakili Gubernur Riau.

Pemenang kedua berhak atas uang tunai sebesar Rp 5.000.000, tropi Ketua DPRD Riau, dan piagam penghargaan yang diserahkan oleh Prof. Dr. Sjafri Sairin, M.A. Dan, pemenang ketiga menerima uang tunai sebesar Rp 4.000.000, tropi BKPBM, dan piagam penghargaan yang diserahkan oleh Ir. Said Fadillah.

Secara keseluruhan, LKTI 2007 ini berjalan sukses. BKPBM telah menetapkan LKTI sebagai agenda tahunan. Hal ini sebagai bagian dari konsentrasi BKPBM dalam pemeliharaan dan pengembangan budaya Melayu.(ad/rls)

 

Posting Terkait