BUPATI BENGKALIS, H SYAMSURIZAL : Open Book: Untuk Menciptakan Generasi Literat (Bagian I)

549 views

MINGGU terakhir di bulan Agustus dua tahun lalu. Tepatnya di depan stand pameran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bengkalis. Di sebuah “buku raksasa” berukuran sekitar 3 x 5 meter, dengan huruf warna-warni, Bupati H Syamsurizal menuliskan delapan butir pesan nan bijak. Mengenai arti penting sebuah buku dan manfaat gemar membaca. 

Diantaranya pesan yang dituliskan orang nomor satu di kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini, adalah, “Budaya baca hanya bersemi manakala kita secara sadar mengisi waktu (to full time) dengan membaca. Bukan membaca sekedar untuk menghabiskan waktu (to kill time)”.

Kemudian, masih tulis Syamsurizal; “Sebuah ruang tanpa buku adalah ruang tanpa jiwa”, “Tak ada kapal seperti sebuah buku yang mampu membawa kita ke ruang yang lebih jauh”, serta “Pelajar tanpa buku adalah bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah buku, bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan”.

Jauh sebelum pesan itu dituliskan Syamsurizal dalam sebuah cacatan yang bertajuk “Bukuku Kakiku” dan dipamerkan selama seminggu dalam kegiatan Melayu Serumpun di Pantai Pasir Bandar Sri Laksamana pada tahun 2005, hal itu terlebih dahulu sudah diimplementasikannya dalam proses pelajar mengajar di seluruh sekolah di daerah ini.

Tepatnya tahun 2001. Setahun setelah dilantik sebagai Bupati Bengkalis masa jabatan pertama. Pola pembelajaran selama ini dinilai menyebabkan pelajar “takut” dengan buku, oleh Syamsurizal direformasi. Salah satu bentuk perubahan dimaksud, antara lain dalam pelaksanaan ujian di sekolah.

Jika sebelumnya pelajar di daerah ini mengerjakan soal-soal dengan sistem close book (dilarang membuka buku), dengan reformasi yang dilakukan itu, dirubah seratus delapan puluh derajat. Para pelajar, bukan saja dibiarkan, tetapi diberi kesempatan sesuka hati untuk membuka buku apa saja yang berkenaan dengan pertanyaan yang mesti dijawab dalam ujian itu yang mereka bawa ke sekolah.

Sistem baru ini dikenal dengan sebutan sistem open book. “Ada 12 keburukan ujian dengan sistem close book. Diantaranya, anak- anak tidak akrab dan merasa asing dengan buku. Minat minat membaca mereka menjadi rendah, tidak kreatif. Buruknya lagi, dengan sistem lama ini, banyak pelajar yang melakukan tindakan tidak terpuji. Seperti menyontek,” kata Syamsurizal mengenai alasan mengapa perubahan itu dilakukan.

Terlepas dari kejelekan dimaksud, katanya, perubahan itu sebenarnya dilakukan dalam rangka menciptakan generasi literat. “Generasi literat itu merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.

Adapun generasi literat yang dimaksud bupati bergelar Sri Mahkota Sempurna Negeri ini, adalah generasi berilmu pengetahuan. “Generasi demikian, akan terbentuk apabila mereka didekatkan, mencintai buku dan gemar membaca. Selain untuk itu, dengan sistem open book ini, kreativitas dan daya berpikir kritis siswa lebih dapat dikembangkan. Sedangkan melalui sistem close book, hal itu sulit terbentuk,” kata kepada sejumlah wartawan di kediaman resmi Bupati Bengkalis, Wisma Daerah Sri Mahkota, beberapa waktu lalu.

Dan, karena untuk membentuk generasi literat ini meski dimulai sejak dini, sistem ini pun diberlakukan di semua tingkatan. Mulai dari SD sampai SMA. “Generasi literat itu akan cepat terbentuk, jika sejak SD, anak-anak sudah dibiasakan dengan tugas membaca dan membuat jurnal atau laporan mengenai apa yang dibacanya itu,” sambungnya, sembari menambahkan bahwa kebijakan ini juga berdampak dan menjadi motivasi tersendiri bagi para guru untuk lebih banyak membaca agar tidak “kalah” dari siswanya.

Dengan laporan yang dibuat itu, ungkap Syamsurizal, mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pendapat tentang buku yang mereka baca. “Dampaknya, daya nalar dan kritis anak-anak yang merupakan awal lahirnya generasi literat, meningkat. bila dilakukan dengan benar, daya kritis seseorang bisa berdampak positif terhadap kemajuan masyarakat,” papar Syamsurizal. (Bersambung)

Posting Terkait