Di Labengki, Anak Anak Bermain Dengan Hiu Paus

1304 views

labengki1

Pulau Labengki, makin ramai saja dikunjungi wisatawan. Terletak di Desa Labengki, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, sekitar 75 km dari Kota Kendari,  lokasi wisata bahari ini sekarang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya warga Sultra yang tinggal di Kota Kendari dan daerah Soropia, Lasolo,  Konawe Utara.

Pantas menjadi kebanggaan warga Sultra antara lain karena sejumlah keunggulan yang dimiliki Labengki. Kawasan wisata bahari ini terdiri dari Pulau Labengki Besar dan Labengki Kecil yang posisinya saling berdekatan.  Selain memiliki pantai yang landai sepanjang lebih 580 meter, obyek wisata ini juga punya sejumlah lokasi penyelaman, snorkling dan pemancingan. Air lautnya pun jernih, arusnya tidak deras, sehingga memungkinkan para penyelam memperhatikan dengan seksama alam bawah laut,  sambil memotret  bentuk bentuk terumbu karangnya yang khas, juga ikan ikannya yang beragam dan unik.

labengki4Dan, yang lebih membuat takjub banyak pelancong  adalah bentuk kawasan wisata Labengki  yang mirip sekali dengan kawasan wisata Raja Ampat di Papua Barat.

Selain itu, pada bagian lain obyek wisata ini ada teluknya yang berbentuk lambang cinta. Masyarakat pelancong pun menamakannya teluk cinta. Teluk itu warna air lautnya berwarna biru, dan kini menjadi salah satu lokasi penyelaman menarik di Sulawesi Tenggara. .

“Kedalamannya lebih 10 meter. Dasar laut teluk ditumbuhi banyak rumput yang tegak lurus dan tingginya sekitar 1-2 meter. Ada juga terumbu karangnya, juga spot spot penyelaman. Sementara jenis ikannya macam macam,” tutur Pudin (30) nelayan dari suku Bajo yang kesehariannya tinggal di Labengki Kecil.

Lokasi wisata ini juga mirip danau yang sangat tenang permukaan lautnya. Itu yang menyebabkan kawasan wisata  Labengki menjadi tempat utama pemancingan ikan, Jika akhir pekan, dari Teluk Kendari macam macam kapal kayu menuju ke Labengki. Kapal kapal kayu itu membawa para pemancing, penyelam dan wisatawan yang ingin mandi mandi di sekitar pantai Labengki Besar. “Memang mereka selalu datang berombongan pakai kapal kayu. Banyak juga diantara mereka itu anak anak sekolah yang sedang liburan dan ingin berwisata ke Labengki,” jelas Andi Mochtar, warga Tipulu, Kota Kendari yang mengaku maniac mincing.

Pekan lalu penulis pun berhasil menemui, Mustamin , salah seorang pemancing dari kalangan pegawai negeri.di Kantor Walikota Kendari. Mustamin datang bersama beberapa rekan karyawan Bank Sultra di Kendari dan berhasil memancing ikan napoleon, barakuda, kakap merah, dan ikan putih. “Kami memancing dari jam  19.00 sampai jam 3 pagi. Temen teman juga dapat banyak ikan kakap dan ikan putih. Enak mancing disini, lautnya tenang, ikannya banyak,” jelas Mustamin — yang sudah beberapa kali  mendatangi lokasi pemancingan  Labengki.

Cerita unik berwisata ke Pulau Labengki juga diungkapkan sejumlah nelayan bagan perahu dari sekitar Labengki Kecil. Andi Samsudin salah seorang nelayan disitu  menuturkan, setiap musim lure (ikan teri) selalu muncul ikan hiu paus totol, ikan raksasa yang disekujur tubuhnya penuh bintik hitam. Ikan berukuran besar dan panjang sekitar 12 meter itu memang  jinak. Walaupun mulutnya lebar, tetapi menurut Andi Samsudin, ikan pemakan plankton  itu paling doyan makan  lure dan ikan kecil lainnya.  Makanya bila dia datang dan bermain dibawah bagan, kami sirami dia dengan lure.

“Bila sudah dikasih seember lure, dia betah berlama lama di bawah bagan. Temen temannya yang juga bertubuh besar berdatangan. Kami tidak terganggu dengan ikan paus itu,” jelas Andi Samsudin.

Malah ikan ikan paus itu, kata nelayan bagan lainnya,  kerap menjadi ajang permainan anak anak nelayan suku Bajo. Bila hiu paus itu sudah dikasih makan, anak anak nelayan suku Bajo suka berloncatan ke laut, lalu berlomba menaiki punggung sang hiu paus. Bila punggungnya sudah ditumpangi anak anak, sang ikan pun berkeliling atau sekedar berputar putar sekitar Bagan.

Belakangan ini, kata Andi Samsudin, banyak  anak usia sekolah dari Kendari, jika  liburan datang berwisata ke Labengki Kecil. Mereka pun bawa ransum sendiri saat  mendatangi bagan perahu. Satu saja sasaran mereka, yakni memberi makan lure yang dibeli di bagan, lalu jika hiu paus totol datang dibawah bagan mereka kasih makan. Setelah itu, anak anak lompat ke laut,  bermain dengan hiu paus totol. Mereka juga menaiki punggung punggung ikan itu. Dan ikan pun,  akan bergerak perlahan mengitari bagan. “Alhamdulilah, sampai sejauh ini semua aman aman saja, karena sifat sifat Hiu Paus itu sangat bersahabat.   Buktinya anak anak bisa menaiki punggung ikan sambil menyuapi lure,” jelas Andi Aming, pemilik salah satu bagan yang menemani penulis menyaksikan hiu paus tersebut.

Keunilkan keunikan itu pun meluas dari mulut ke mulut. Akibatnya disetiap akhir pekan, wisatawan berdatangan. Pada musim liburan sekolah, banyak siswa SMA dan SMK, bahkan mahasiswa dari beberapa universitas di Kendari datang ke Labengki. Mereka  mendirikan tenda, lalu menggelar acara perapian sambil panggang ikan di tepi pantai.

Sementara wisatawan yang punya kemampuan menyelam, rata rata ke kawasan wisata Labengki membawa perlengkapan selam, snorkling dan alat pancing. “Jadi, kalau sudah mendekati jam makan, ada saja anggota kami yang memancing dan dapat ikan yang enak dipanggang lalu dimakan rame rame,” tutur Ilham, salah seorang pengurus organisasi penyelaman  di Kendari.

“Kami anggota sebuah club diving di Kendari juga menjadikan kawasan wisata Labengki lokasi penyelaman terbaik. Kami sering kemari,” jelas  Diana, mahasiswi Fakultas Komunikasi Universitas Halu Oleo yang saat ditemui baru saja menyelami perairan  Labengki Besar.

Lokasi penyelaman di Labengki, kata Diana, rata rata kedalamannya antara 10 – 20 meter. Alam bawah lautnya masih perawan. Indah sekali.

Dirman, temen Diana se organisasi dive  juga menuturkan Indahnya alam bawah laut  Labengki bisa dilihat saat  melakukan snorkling. Lobster dan gurita sering terlihat disela sela terumbu karang.

Sayangnya, karena tidak ada petugas terkait yang menjaganya,
wisatawan sering buang sampah di sembarang tempat. Bahkan ada pohon yang tumbuh subur dekat pantai di tebang, lalu kayunya dijadikan bahan mendirikan pondok berteduh.

Diana dan kawan kawannya para penyelam  mengaku prihatin dengan aksi tidak terpuji pengunjung yang buang sampah di sembarang tempat, dan menebangi pohon di Labengki Besar “Saya pikir, itu karena kawasan wisata ini tidak dijaga petugas dari instansi terkait. Mestinya dijaga dan dirawat baik  khususnya Labengki Besar.” Kata Diana dengan sedikit kesal.

Kawasan wisata Pulau  Labengki memang  belum diolah secara profesional sebagai destinasi wisata bahari. Karenanya, hingga kini Labengki Besar  belum ditumbuhi rumah makan, apalagi hotel dan  homestay. Jangankan rumah makan, sekedar  pondok pondok peristirahatan  bagi wisatawan juga tidak ada. Bisa begitu karena Labengki Besar belum berpenghuni. Jadi,  tempat bilas mandi — yang diperlukan wisatawan seusai berenang di laut — harus juga dimaklumi, belum ada juga. Waw.

Itu yang akhirnya membuat pengunjung kerap kecewa dan sangat menyayangkan, kenapa pemerintah daerah tidak memberdayakan potensi kawasan wisata Labengki.

Padahal, seperti diutarakan beberapa pengunjung yang kebetulan berpropesi sebagai  pengusaha, pengelolaan secara profesional kawasan wisata Pulau Labengki akan menghasilkan banyak untung. Bahkan dampak turunannya tidak saja bisa mengurangi pengangguran, tetapi juga menginspirasi pengelolaan banyak obyek wisata lain di Sultra yang hingga kini belum diberdayakan.

labengki3“Saya yakin sekali pengelolaan secara profesional kawasan wisata  Labengki akan memberi banyak keuntungan karena alam pulaunya, sangat indah. Potensi Itu sangat menjual,” kata Haji Mas’ud salah seorang anggota Kadin Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tidak itu saja, Haji Mas’ud juga melihat sektor transportasi ke Labengki relative lancar, baik melalui kapal kayu maupun jalan darat dari Mandonga arah Soropia, Lasolo.  Sementara itu minat masyarakat Sultra untuk aktif berwisata juga makin membaik.

“Saya yakin jika diberdayakan sebagaimana mestinya dan dipromosikan secara teratur, kawasan wisata Pulau Labengki bisa menjadi pohon uang bagi daerah,” lanjut Haji Mas’ud yang juga mengelola salah satu armada taksi di Kota Kendari.

Karena tidak dirawat baik oleh instansi terkait, Laode Ridwan, karyawan Kantor Gubernur DKI Jakarta yang baru saja melancong ke Labengki menulis surat pembaca di  koran terbitan Kendari.  Melalui surat pembaca itu, Laode Ridwan mengeluh kenapa  instansi terkait belum juga memberdayakan kawasan wisata Pulau Labengki. Akibatnya, kawasan wisata itu akhir akhir ini kerap diseraki sampah “Menurut  saya, instansi terkait harus menugasi orangnya untuk menjaga sekaligus melakukan sosialisasi perawatan Labengki. Pulau wisata ini bukan tong sampah. Jadi tempat  sampah juga harus disediakan agar masyarakat tidak buang sampah  di laut dan pantai. Masyarakat juga harus diingatkan tidak boleh menebang pohon apalagi mencorat coret batang pohon yang tumbuh subur di sekitar bukit dan pantai,” ujar Laode Ridwan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Provinsi Sulawesi Tenggara, Zainal Koedoes ketika ditemui di Kendari mengaku sudah pernah ke kawasan wisata Labengki dan memuji kecantikan pesona alam pulau itu.

Kawasan wisata Labengki, kata Zainal Koedoes, secara administratif berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Konawe Utara, sehingga perawatan dan promosinya harus dilakukan bersama melibatkan instansi terkait di Konawe Utara dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Kami tidak mungkin membiarkan masukan masyarakat yang ingin melihat Labengki menjadi destinasi wisata bahari. Kami akan berdayakan  obyek wisata itu, dan mulai tahun depa, kami akan ikut rawat pulau itu dan promosikan. Kami juga mendukung jika ada pihak swasta tertarik bekerjasama mengelola secara profesional  Labengki” Ujar Zainal Koedoes.

Sejauh ini, belum ada catatan resmi berapa banyak wisatawan yang sudah melancong ke Labengki. Tetapi yang pasti, setiap akhir pekan, terlebih di musim liburan sekolah, Pulau Labengki selalu didatangi banyak pengunjung. Tidak sedikit diantara mereka yang datang ke Labengki adalah wisatawan asing — yang awalnya hanya melancong ke Kota Kendari, tetapi  berkat promosi dari mulut ke mulut  sejumlah karyawan hotel dan restoran di Kendari, mereka pun menyewa kapal cepat ke Labengki.

Anda ingin juga ke Pulau Labengki? Ingat, jika Anda merupakan pengunjung baru, jangan lupa bawa sepatu karet yang alasnya tebal, Itu diperlukan karena perbukitan Pulau Labengki Besar kebanyakan berupa batu karang yang perawan sehingga permukaannya agak tajam.

labengki2Jangan lupa pula bawa perlengkapan selam atau snorkling dan alat pancing jika ingin menyelam, snorkling dan memancing ikan. Anda juga harus bawa kamera supaya bisa merekam gambar betapa jinaknya ikan paus totol yang punggungnya ditunggangii anak anak, dan betapa indahnya alam bawah laut Pulau Labengki.. Satu lagi yang urgen diperhatikan, jangan lupa bawa ransum.

Jika makanan dan minuman sudah tersedia, jika alat selam dan pancing sudah dibawa, selamilah kedalaman perairan Labengki, Anda bisa buktikan sendiri bahwa kawasan wisata  Labengki memang  indah. Tidak kalah indahnya dengan alam bawah laut Wakatobi yang sudah mendunia. Berbanggalah warga Sultra punya obyek wisata seindah Pulau Labengki.

Yuk ke Labengki. (Ami Herman)

Posting Terkait