Ekmal Rusdy: Hadirkan pakar pada bidangnya, robah paradigma

523 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Anak lebih banyak dikendalikan daripada dimerdekakan. Sebab kemerdekaan itu besar resikonya dan dibutuhkan kesediaan untuk mungkin’diberontak’ oleh anaknya. 

Salah satu buktinya, polling yang pernah dilakukan oleh salah satu media tentang keinginan orangtua terhadap anaknya, hampir 70 % orangtua menginginkan anaknya rajin, sopan dan patuh dan hanya segelintir orangtua yang menginginkan anaknya cerdas dan kreatif.

Kita dapat saksikan bagaimana nasib anak-anak yang sekarang waktu yang seharusnya diisi dengan permainan dan kegembiraan ditelan untuk belajar, menghapal, memahami dan mengerti berbagai paket pengetahuan, dari pagi hinga sore mirip pekerja pabrik menghabiskan waktunya di ruang kelas untuk menelan pelajaran yang dalam banyak hal tidak menyenangkan.

Seorang peneliti pendidikan menulis di harian Kompas (17/8/2003) lalu, menyebutkan temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang ketika ditimbang beratnya 43 kilogram, melebihi berat badan murid SD sendiri.

Anak didik hanya memainkan peran pembantu, sebab guru adalah aktornya, pelajar hanya akan menjadi pelengkap penderita yang lebih diperlakukan sebagai obyek ketimbang subyek.

Proses pendidikan semacam ini hanya berfungsi untuk ‘membunuh’ kreativitas siswa, karena lebih mengedepankan ”verbalisme, suatu asas pendidikan yang menekankan hapalan bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi dari pada substansi, parahnya lebih menyukai keseragaman bukannya kemandirian serta hura-hura klasikal bukannya petualangan intelektual”.

Sebenarnya masih banyak yang dapat di ungkapkan tentang dunia anak,atau anak didik pada khususnya. Untuk itulah KPAID dan PGRI Kota Pekanbaru tanggal 20 November 2008 lusa di Aula Bappeda Kota Pekanbaru, sepakat untuk mengadakan Seminar Penghentian Kekerasan terhadap Anak di sekolah.

Kita rubah Paradigma tentang Anak didik dengan menangkap bahwa esensialnya anak itu adalah milik dirinya sendiri. Para orangtua dan masyarakat secara umum hanyalah berkewajiban membesarkan dan mendidik. Ibu berkewajiban memberikan cinta hatinya tetapi pikiran anak itu adalah hak dirinya sendiri sepenuhnya.

Orangtua dalam membesar kan dan mendidik dapat dengan cara memberikan pengetahuan dan isi-isi untuk bahan pemikiran anak itu; tetapi tidak sampai membuat pikiran-pikiran orangtua adalah harus sepenuhnya menjadi pikiran anak juga.

Kita menghadirkan para pakar pada bidangnya, sehingga seminar ini betul betul dapat dipertanggungjawabkan dalam mengantar masa depan anak didik kita yang tak lagi dipasung dan ditekan untuk mematuhi apapun perin tah dan anjuran pendidik yang membuat kesadaran individu dikikis habis dan mengggan tinya dengan kesadaran kolektif yang seragam.

Efeknya,akan memunculkan kepribadian yang mekanik, mirip dengan benda mati yang kehilangan kebugaran dan kreativitas. Peserta seminar adalah Kepala Sekolah dan Guru BK se-kota Pekan baru yang jumlahnya kita batasi 150 peserta mengingat alokasi dana di KPAID Kota Pekanbaru sangat kecil sekali, dan Insya Allah tahun depan menjadi perhatian Pemko Pekanbaru, tak lain karena kita punya tekad menjadikan Pekanbaru sebagai ”A CITY FIT FOR CHILDREN, tukas Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Pekanbaru, Dr H Ekmal Rusdy, mengakhiri rilisnya kepada Riauinfo, Selasa (18/11). (rls/muchtiar)

 

Posting Terkait