HENTIKAN KEKERASAN DI SEKOLAH Bhakti Kepada Orang Tua

550 views

OLEH : EKMAL RUSDY 

Anak lebih banyak dikendalikan daripada dimerdekakan. Sebab kemerdekaan itu besar resikonya dan dibutuhkan kesediaan untuk mungkin’diberontak’ oleh anaknya. Salah satu buktinya, polling yang pernah dilakukan oleh salah satu media tentang keinginan orangtua terhadap anaknya, hampir 70 % orangtua menginginkan anaknya rajin, sopan dan patuh,yang nanti kedepan akan tumbuh sebagai manusia ” Robot Pintar ”, namun sayangnya hanya segelintir orangtua yang menginginkan anaknya cerdas dan kreatif dengan seperangkat Visi dan Misi dalam hidupnya.

Kita dapat saksikan bagaimana nasib anak-anak yang sekarang waktu yang seharusnya diisi dengan permainan dan kegembiraan ditelan untuk belajar, menghapal, memahami dan mengerti berbagai paket pengetahuan, dari pagi hinga sore mirip pekerja pabrik menghabiskan waktunya di ruang kelas untuk menelan pelajaran yang dalam banyak hal tidak menyenangkan.

Seorang peneliti pendidikan menulis di harian Kompas (17/8/2003), menurut temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang ketika ditimbang beratnya 43 kilogram, melebihi berat badan murid SD sendiri. Anak didik hanya memainkan peran pembantu, sebab guru adalah aktornya, pelajar hanya akan menjadi pelengkap penderita yang lebih diperlakukan sebagai obyek ketimbang subyek.

Proses pendidikan semacam ini hanya berfungsi untuk ‘membunuh’ kreativitas siswa, karena lebih mengedepankan”verbalisme,suatu asas pendidikan yang menekankan hapalan , bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi dari pada substansi, parahnya lebih menyukai keseragaman , bukannya kemandirian serta hura-hura klasikal , bukannya petualangan intelektual”.

Dalam banyak kejadian sering orang-orangtua kita bukan sekedar memberikan alternatif tetapi menganggap bahwa apa yang diberikan kepada anak adalah satu-satunya yang terbaik, tidak ada alternatif lain.

Ajaran orangtua sepenuhnya harus dianut, dipatuhi dan orangtua bisa sakit-sakitan dan bersedih hati jika sang anak tidak mengikuti pikirannya. Dalam hal ini, seringkali orangtua menjadi tiran bagi anaknya. Orangtua menerapkan konsep pikirannya pada anaknya. Orangtualah yang mengarahkan dan menentukan jalan hidup dan masa depan anaknya. Orangtualah yang memilihkan cita-citanya, profesi, bahkan sampai hal yang paling privacy mengenai pilihan suami atau istri misalnya.

Anak-anak sering dianggap sepenuhnya adalah milik orangtua yang tidak memiliki dunia sendiri. Bagaimana kemudian kita melihat anak-anak yang sebetulnya cerdas, menjadi kurang bertumbuh bahkan teramat kerdil karena kebanyakan orangtua punya kecenderungan untuk terlalu mengatur mereka, terlalu menentukan, terlalu menyutradarai, terlalu mengarahkan, terlalu banyak memerintah dan melarang yang pada akhirnya membuat nafas kemerdekaan anak-anak menjadi tersengal-sengal.Akhirnya kalimat Bhakti kepada orangtua,tak lebih dari tuntutan terhadap anak buat diri orangtua itu sendiri,padahal kita hanyalah busur,dan mereka adalah anak panah yang meluncur.

Berikan contoh dengan perilaku yang dapat dijadikan tuntunan bagi anak,sehingga kalimat Bhakti kepada orangtua akan datang sendiri. Berikan kasih sayang,tapi jangan paksakan pikiran kita pada mereka, sebab mereka berbekal pikiran sendiri.Berikan rumah untuk raga mereka,bukan jiwa mereka,karena jiwa mereka adalah penghuni masa depan.

MENCARI AKAR PERMASALAHAN 
Tayangan Smackdown yang dituduh menjadi biang keladi meningkatnya agresivitas anak telah dihentikan. Namun, penghentian tayangan gulat yang dikemas dalam bentuk hibur an itu, ternyata tidak serta merta menghentikan kekerasan pada anak. Selalu mengambing hitamkan media sebagai penyebab kekerasan tidaklah menyelesaikan masalah. Memang tidak ada yang bisa membantah keberadaan tayangan ke kerasan di media, mampu memi cu agresivitas anak.

Anak-anak yang menonton kekerasan di TV lebih mudah dan lebih sering bertindak kasar, tidak disiplin, juga sering mengabaikan tugas-tugasnya di sekolah.

Namun, ada pihak lain yang sebenarnya le bih bertanggung jawab akan terjadinya kekera san di sekolah; pola asuh di rumah dan iklim sosial di sekolah.

Kekerasan di sekolah merupakan permasalahan bersama antara orangtua dan guru. Masing-masing harus saling membantu dan bekerja sama. Pola asuh di rumah sangat berperan dalam mengendalikan sifat agresif, juga temperamen anak.

Jika pola asuhnya baik, maka anak yang bertempe ramen kasar pun bisa lebih terkendali. Tahu bagaimana mengungkapkan emosi dan cara berekspresi. Sebaliknya, anak yang lembut sekalipun bisa menjadi sosok beringas, jika pola asuh dan lingkungan turut mendukung nya. Sekolah juga bisa menciptakan iklim kebersamaan, sekaligus ajang gencet-menggen cet antara si kuat dan si lemah.

Tak ada yang rela bila budaya kekerasan justru tumbuh subur di sekolah. Tempat ini sebenarnya bertanggung jawab membentuk karakter seseo rang menjadi lebih baik. Amat menyedih kan. Namun, hanya menyesali dan menyalahkan pihak lain tak akan menyelesaikan masa lah. Mari rapatkan barisan untuk memerangi

bentuk-bentuk Bullying- perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang/ke lompok yang lebih lemah oleh seseorang/se kelompok orang yang memersepsikan dirinya lebih kuat.

Bukan dengan kekerasan namun dengan bercermin ”Apakah selama ini kita sebagai orangtua sudah menjadi role model yang baik bagi anak?” Apakah sekolah sudah menciptakan iklim yang kondusif untuk mencegah dan mengatasi praktik-praktik bullying ini?. Kita rubah Paradigma tentang Anak didik dengan menangkap bahwa esensialnya anak itu adalah milik dirinya sendiri.

Para orangtua dan masyarakat secara umum hanyalah berkewajiban membesarkan dan mendidik. Ibu berkewajiban memberikan cinta hatinya tetapi pikiran anak itu adalah hak dirinya sendiri sepenuhnya. Orangtua dalam membesarkan dan mendidik dapat dengan cara memberikan pengetahuan dan isi-isi untuk bahan pemikiran anak itu, tetapi tidak sampai membuat pikiran-pikiran orang tua adalah harus sepenuhnya menjadi pikiran anak juga.

Kita antar masa depan anak didik kita yang tak lagi dipasung dan ditekan untuk me matuhi apapun perintah dan anjuran pendidik yang membuat kesadaran individu dikikis habis dan mengggantinya dengan kesadaran kolektif yang seragam.

Efeknya,akan memun culkan kepribadian yang meka nik, mirip dengan benda mati yang kehilangan kebugaran dan kreativitas.Pasal 29 ayat (2) Konvensi Hak Anak mengatakan,bahwa setiap anak ber hak atas pendidikan dan penerapan disiplin haruslah menghargai martabat anak.Lebih jauh,harus disediakan meka nisme independen untuk komplain terhadap pelanggaran pasal ini. Jadi sekolah haruslah aman,sebagai tempat yang bersahabat bagi anak, dimana setiap anak mendapatkan pendidi an tanpa kekerasan.Tak ada pilihan lain, KPAID Kota Pekanbaru dan PGRI Kota Pekan baru telah sepakat , bersama Kepala Sekolah & Guru Bimbingan dan

Konseling dalam se minar Penghentian Kekerasan di Sekolah tanggal 2O November 2008 menghasilkan 3 ke simpulan yaitu (1) Mengadakan perubahan Paradigma tentang anak Sekolah.

(2) Perlu menerapkan DISIPLIN yang positif di lingkungan sekolah, dengan tetap menghargai pendapat anak didik, (3) Jika terjadi tindak kekerasan di sekolah,untuk diselesaikan di tingkat sekolah terlebih dahulu dengan difasilitasi oleh KPAID Kota Pekanbaru.Semoga dengan kesimpulan ini,maka kedepan tak ada lagi tindak kekerasan di Sekolah di Kota Pekanbaru, karena bagaimanapun Kota Pekanbaru adalah Barometer dan Etalasenya Pro insi Riau. Kita tak impikan

sebagai contoh terbaik di Riau,tapi kembali pada prinsip dira sakan keberadaannya (efektif) dan peduli tentang Hak Anak (responsif) yang dikemas dalam KPAID Kota Pekanbaru ” Tampil Beda ”,menuju pencapaian a school fit for students di Kota Pekanbaru sebagai A CITY FIT FOR CHILDRENS. KETUA KPAID KOTA PEKANBARU, Dr H EKMAL RUSDY.

 

 

Posting Terkait