Indonesia Gagal Dalam Proklamasi Budaya

414 views

sri edi swasono 2JAKARTA (RiauInfo) – Tak terasa usia kemerdekaan Indonesia sudah 70 tahun, tak terasa pula sudah selama itu Indonesia membiarkan kegagalannya dalam hal proklamasi budaya. Akibatnya Indonesia tidak punya integritas kebudayaan. Hal ini memprihatinkan karena dampaknya sangat luas, Indonesia menjadi negara yang sangat tergantung dengan bantuan asing.

Pakar ekonomi Prof Dr Ki Sri Edi Swasono mengemukakan itu saat menjadi pembicara pertama dalam diskusi panel serial di Merak room Jakarta Convention Center, Sabtu (7 November 2015). Diskusi diselenggarakan oleh Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) yang sepanjang tahun lalu sukses menggelar diskusi serial bertema budaya kemaritiman.

Hadir dalam acara itu Pembina YSNB Pontjo Sutowo yang juga menampilkan makalah berjudul Etnisitas, Kebudayaan Nasional, dan Pancasila.Tampak pula Mantan Panglima Djoko Santoso, Pakar Maritim Laode Kamaludin, juga sejumlah cendekiawan, mahasiswa pecinta budaya dan pembicara kedua, Dr Riwanto Tirtosudarmo yang menampilkan makalah Dari Kolonial menjadi Negara Bangsa: Demokrafi-Politik Patriotisme sebagai Nilai Keindonesiaan.

Menurut Prof Dr Ki Sri Edi Swasono, kegagalan Indonesia dalam proklamasi budaya tidak bisa dibiarkan karena masih ada waktu untuk memperbaikinya. Namun jika kenyataan itu terus dibiarkan, dampaknya luas.

“Indonesia akan terus menerus menjadi negara yang sangat tergantung dengan utang luar negeri, tapi juga tidak punya integritas kebudayaan alias negara yang tidak punya malu.” Ujar Prof Edi Swasono.

Pengajar program S3 di sejumlah perguruan tinggi itu juga memperlihatkan salah satu dampak kegagalan proklamasi budaya. Dalam hal industri misalnya, disaat negara lain sudah bisa membanggakan dunia otomotif buatan bangsanya, Indonesia cuma bisa memutar mutar skrup. Pertanian Indonesia juga gagal menghasilkan produk unggulan, gagal melakukan swasembada pangan. Kesehatan Indonesia gagal menciptakan obat-obatan produk sendiri, bahkan Indonesia belum mampu bikin peluru. Semua harus import.

“Parahnya lagi, lebih dari 380 bahasa daerah yang tersebar di 170 ribu pulau di Indonesia kini terancam punah. Generasi muda bahkan cenderung malu menggunakan bahasa daerah, padahal itulah bahasa yang harus terus dibanggakan karena merupakan bagian dari uniknya budaya Indonesia,” lanjut Prof Edi Swasono.

Untuk membanggakan penggunaan bahasa daerah, Prof Edi Swasono menambahkan bahwa, istrinya, Prof Dr Meutia Hatta, saat masih menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan pernah mengusulkan agar TVRI disela sela penggunaan bahasa Indonesia juga menggunakan bahasa daerah baik dari Papua, Aceh dan lain lain. Sayangnyai usulan itu tidak diperhatikan.

Diskusi serial bertema Membangun Budaya Bangsa dan Nilai Nilai Keindonesiaan Demi Masa Depan Bangsa ini, menurut Ketua YSNB Iman Sunaryo, akan berlanjut lagi pada Sabtu 5 Desember 2015, menampilkan beberapa pembicara penting dan tema bahasan yang beda. Masyarakat pecinta budaya dibolehkan hadir tanpa pungutan biaya. (Ami Herman)

Posting Terkait