LAPORAN DARI YOGYAKARTA Diaspora Melayu: Dari Dagang Sampai Dunia Maya

477 views
news9428YOGYAKARTA (RiauInfo) – Siapakah Melayu? Apakah Melayu selalu identik dengan Islam? Berbahasa Melayu? Bertradisi Melayu? Dan, tinggal di kawasan Melayu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pemantik jalannya diskusi bulanan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) beberapa waktu lalu di Ruang Pertemuan BKPBM.

Diskusi bertajuk Budaya Melayu Berdiaspora ini menghadirkan pemakalah yang juga pemenang keempat Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Internasional 2008/2009, Siti Nur Hidayah, yang berhalang hadir pada waktu Diskusi Panel dan Penyerahan Hadiah LKTI yang dilaksanakan 20 Maret silam. Diskusi dibuka oleh sambutan Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH., MM., dan dimoderatori oleh Pimpinan Redaksi RajaAliHaji.com, Ahmad Salehudin, MA.

“Menurut Anthony Milner, pembicaran tentang identitas Melayu merujuk pada beberapa aspek. Pertama terkait dengan trah kerajaan, kedua kolonialisme di Asia Tenggara, dan terakhir terkait dengan Melayu keturunan, baik dari Arab, India, maupun Cina,” tutur Siti mengawali pembahasan.

Siti juga menjelaskan, setidaknya terdapat beberapa penyebab diaspora, yaitu korban ekspansi atau penjajahan, imperialisme, perbudakan, perdagangan, dan deteritorialisasi. “Dalam kasus Melayu, mereka berdiaspora karena berdagang. Perdagangan dan perlayaran merupakan karakter budaya Melayu,” jelas Siti.

Sebagai pelaut nomaden, ketangguhan pelaut Melayu dapat terlihat dari luasnya jalur diaspora yang meliputi Riau, Semenanjung Malaysia, Pulau Luzon, Kepulauan Maluku, pantai barat Jawa, bahkan sampai India dan Madagaskar. “Sementara, pelaut nomaden yang tidak berdiaspora mereka beroperasi sebagai Lanun, yakni jaringan pelaut kerabat Melayu,” tambahnya.

Seiring perkembangan jaman, tambah Siti, jaringan ekonomi global yang melahirkan globalisasi, telah memicu kelahiran dunia baru, dunia maya. Jaringan internet ini memungkinkan manusia dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa harus bertemu secara fisik. Informasi pun dapat diproduksi dan didistribusikan ke seluruh belahan dunia dalam sekejap.

“Realitas inilah yang memaksa dunia Melayu merespon kelahiran dunia maya. Dan salah satu respon tersebut, datang dari BKPBM, yang meluncurkan portal MelayuOnline.com,” urai Siti. Lebih lanjut siti memaparkan, melihat kekayaan menu yang ditampilkan MelayuOnline.com, menunjukan BKPBM telah melakukan diaspora budaya Melayu. “Jika begini, diaspora harus diredefinisikan. Tidak hanya disebarkan oleh manusia secara fisik, tetapi didistribusikan oleh media secara visual,” imbuhnya.

Usai Siti memparkan buah-buah pemikirannya, berbagai pertanyaan maupun kritik datang menanggapi pemaparannya. Salah satunya, datang dari Mahyudin yang akrab disapa Bang MAM. Beliau mempertanyakan kembali perihal siapa Melayu. “Lalu bagaimana dengan orang keturunan Melayu yang bukan keturunan kerajaan, bukan orang yang keluar dari tanah Melayu? Apakah mereka masih menjadi Melayu atau tidak?” tanya Bang MAM.

“Hal ini memang sulit didefinisikan, karena adanya diaspora. Bagi saya sendiri, orang Melayu adalah mereka yang punya dan menggunakan budaya Melayu, dengan segala keanekaragamannya,” jawab Siti. Melayu, masih menurut Siti, adalah serunai keragaman budaya dalam persebaran Melayu di dunia.

Di pengujung acara, hadiah sebagai pemenang keempat LKTI yang seharusnya diserahkan pada 20 Maret 2009 silam, akhirnya diberikan kepada Siti. Pada kesempatan tersebut, Bang MAM selaku pemangku BKPBM menyampaikan selamat dan langsung menyerahkan hadiah kepada Siti.(ad/rls)

 

Posting Terkait