LAPORAN DARI YOGYAKARTA Pelajaran Mulok Miskin Buku Penunjang

145 views

YOGYAKARTA (RiauInfo) – Mata pelajaran muatan lokal (Mulok) sangat penting untuk menumbuhkan kepedulian anak-anak kepada budayanya. Selain itu, Mulok juga penting untuk menjaga agar seorang anak tidak tercerabut dari akar lokalitasnya. 

Sayangnya, peran vital Mulok tersebut tidak didukung oleh kurikulum yang komprehensif, tenaga pengajar yang kompeten, dan buku penunjang yang memadai.

Hal tersebut terungkap dalam silaturrahim antara Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH., MM., dengan tim dari Kabupaten Bengkalis yang terdiri dari lembaga Kiswah, Adil Sempoa Mandiri, dan Yadana, serta Corner Production Yogyakarta, pada hari Sabtu (15/11/2008) di ruang sidang BKPBM.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Pelaksana BKPBM, Hadi Kurniawan S.H.I., Humas BKPBM, Yuhastina Sinaro, SST.Par., dan Redaktur Budaya MelayuOnline.com, Ahmad Salehudin, MA.

Dalam kesempatan tersebut salah seorang dari tim Bengkalis, Murwani Salamah, mengatakan bahwa perkembangan budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis cukup memprihatinkan.

Anak-anak sekolah tidak lagi mempunyai pengetahuan tentang budaya Melayu, seperti kesenian dan syair Melayu. ”Jika kita bertanya kepada anak-anak tentang syair Melayu, dapat dipastikan mereka tidak lagi mengenalnya,” ungkap Ani, nama panggilan Murwani Salamah.

Merespon apa yang disampaikan Ani tersebut, Bang MAM, panggilan akrab Mahyudin Al Mudra, mengatakan bahwa apa yang terjadi di Bengkalis juga terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Kendala utamanya adalah kesalahan dalam memahami apa yang dimaksud dengan budaya Melayu.

Banyak yang beranggapan bahwa budaya Melayu hanya sekedar kesenian, upacara-upacara, dan pakaian, padahal unsur-unsur budaya Melayu banyak sekali. Keseniaan, upacara-upacara, dan pakaian hanya merupakan unsur-unsur dari budaya Melayu.

Untuk memberikan informasi dan menanamkan nilai-nilai budaya Melayu kepada masyarakat, menurut Bang MAM, harus dimulai sejak anak-anak. Pemberian mata pelajaran Mulok pada anak-anak, secara ideal, merupakan cara paling strategis untuk mengenalkan dan menginternalisasikan nilai-nilai budaya Melayu. Sayangnya, belum ada kurikulum Mulok yang jelas, materi yang komprehensif, tenaga pengajar yang kompeten, dan buku ajar yang memadai.

Pemerintah mempunyai dana untuk menyusun kurikulum dan materi Mulok yang komprehensif, menyediakan tenaga pengajar yang berkompeten, dan mengadakan buku penunjangnya. Namun, karena kesalahan mendefinisikan budaya Melayu, program kerja yang diagendakan kurang tepat sasaran, sehingga anggaran yang dialokasikan terbuang sia-sia.

”BKPBM sebagai lembaga yang peduli terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu, tentu akan sangat mendukung jika ada pemerintah daerah mengajak kerjasama untuk merumuskan materi Mulok, menyediakan buku-buku penunjang, dan menyiapkan tenaga pengajar yang berkompeten,” ungkap Bang MAM.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, dicapai kesadaran bersama bahwa untuk mengembangkan budaya Melayu harus dilakukan secara bersama-sama antara berbagai pemangku kepentingan.

Pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan pelatihan mata pelajaran Mulok se-Bengkalis, penerbitan buku-buku muatan lokal Bengkalis, pemberdayaan perempuan, dan pendistribusian buku-buku Melayu.(ad)



Posting Terkait