LAPORAN DARI YOGYAKARTA Remehkan Musik Melayu, Ridho `Slank` Terancam Digugat

495 views
news9418YOGYAKARYA (RiauInfo) – Pernyataan Ridho “Slank” yang menuding musik Melayu sebagai indikasi buruk bagi kemajuan industri musik Indonesia ternyata menuai kontroversi. Menurut gitaris grup band Slank itu, musik Melayu sama sekali tidak mengedepankan kualitas.

 


Ridho melihat gejala tersebut sebagai degradasi musik Indonesia. “Gue speechless kalau ngomongin itu. Musik Indonesia sedang mengalami degradasi. Wah, gue nggak bisa ngomong apa-apa. Gue malu ngeliatnya,” ujar Ridho di Jakarta, Jum`at (8/5), seperti yang dilansir www.detikhot.com.

Komentar kontroversial musisi kelahiran Ambon dengan nama asli Mohammad Ridwan Hafiedz itu merupakan wujud penyikapannya terhadap fenomena booming band-band baru yang melibatkan unsur Melayu dalam karya-karya bermusiknya.

Para penikmat musik Indonesia saat ini memang tengah menggemari tren aliran musik yang bernuansa Melayu sehingga tak heran jika kelompok musik bergenre pop Melayu pamornya melejit berkat lagu-lagunya yang easy listening. Namun Ridho mempersoalkan kualitas dari lirik lagu-lagu tersebut. “Musiknya oke gitu, karena kita mencoba merakyat, tapi liriknya harus bagus, dong!” tegasnya.

Ridho mencemaskan industri musik Indonesia saat ini yang menurutnya sedang berada dalam kondisi bahaya. Dari segi kualitas, musik Indonesia jelas mengalami penurunan, apalagi jika ditinjau dari lirik lagu-lagunya.

Bagi Ridho, sah-sah saja memadukan nuansa dangdut –yang selama ini identik sebagai musik asli Melayu– sebagai pendukung harmonisasi dalam bermusik namun jangan sampai justru membuat kualitas musik menjadi Melayu tanpa arah. Ridho pun lagi-lagi menekankan rasa malunya ketika mendengar lagu-lagu semacam itu. “Gue malu aja, serius!” tukas Ridho seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Diharapkan Minta Maaf

Menyikapi tudingan Ridho terhadap efek negatif musik Melayu, pemangku sekaligus pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH., MM., menyarankan agar Ridho segera mengklarifisikasi pernyataan kontroversialnya itu. Mahyudin melihat, apa yang ditudingkan Ridho dapat menimbulkan perpecahan dan merusak kerukunan berbangsa.

“Karena berita itu kemungkinan dibaca jutaan orang, sebaiknya Ridho mengklarifikasi konteks, maksud, dan tujuan ucapannya. Kenapa Melayu yang tak salah apa-apa dikambinghitamkan? Kenapa unsur Melayu dibilang memalukan Indonesia?” tandas Mahyudin saat ditemui di sela-sela acara diskusi bertajuk “Budaya Melayu Berdiaspora”, yang diadakan di BKPBM, Jalan Gambiran, No. 85 A, Yogyakarta, Senin (23/5).

Persoalan komentar Ridho mengenai musik Melayu ini sudah menjadi perbicangan hangat di kalangan penggiat dan pemerhati budaya Melayu. Dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun, banyak pihak menyesalkan pernyataan Ridho yang berbau provokatif tersebut.

Beberapa kalangan mengingatkan bahwa bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu sehingga dengan sendirinya semua lagu Indonesia dipengaruhi unsur Melayu. Inilah yang harus diluruskan. “Jadi jangan sampai Melayu terfitnah,” kata Mahyudin.

Hal-ihwal konteks kemelayuan, Mahyudin mengatakan bahwa selama ini pemahaman tentang Melayu masih sangat sempit dan sering salah kaprah. Melayu tidak melulu hanya melingkupi etnis-etnis atau daerah-daerah yang kebetulan berada di kawasan Semenanjung Malaya saja. Nyaris seluruh wilayah Nusantara, termasuk Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Maluku, masih terikat dalam kesatuan rumpun Melayu.

Menurut Mahyudin, pernyataan Ridho yang menistakan musik Melayu berpotensi menimbulkan stigma buruk terhadap etnis Melayu dan bisa memantik ketersinggungan bahkan kemarahan orang Melayu. Untuk itu, Mahyudin meminta kebesaran hati Ridho untuk mengklarifikasi pernyataannya dengan meminta maaf.

“Jika memang salah ucap, atau wartawannya yang salah tulis, ya minta maaf, dengan begitu tidak jadi berkepanjangan,” ucap Mahyudin yang telah puluhan tahun bergelut di ranah kebudayaan Melayu ini.

Jika pihak Ridho tidak menanggapi itikad baik ini, setelah mendengarkan saran dan masukan dari berbagai pihak, Mahyudin akan mempertimbangkan untuk membawa perkara ini lewat jalur hukum.

Sebagai langkah antisipasi, Mahyudin telah menyiapkan tim pengacara manakala pihak Ridho tidak mengindahkan himbauan untuk memohon maaf atas pernyataannya itu. “Mulutmu hariamau-mu. Jika berbicara jaga mulutmu, jika berjalan jaga kakimu,” ujar Mahyudin mengutip senukil falsafah kearifan khas Melayu.

Mahyudin sendiri mengakui bahwa dirinya juga termasuk Slanker –sebutan bagi penggemar grup musik Slank– karena lagu-lagu Slank yang kritis dan membela rakyat. “Tak ada yang mewajibkan untuk membenci Slank. Jelek-jelek begini, saya juga Slanker, tetapi saya cinta Melayu,” pungkas Mahyudin yang tetap mengharapkan dan mengutamakan jalan kekeluargaan dalam upaya penyelesaian perkara ini.

Pro-Kontra Musik Melayu

Kegemilangan band-band masa kini yang berhasil merebut simpati massa musik Indonesia dengan mengusung aliran musik Melayu memang telah menjadi perdebatan tersendiri, bahkan di kalangan para musisi itu sendiri. Salah satu kelompok musik tersukses yang konsisten memainkan lagu-lagu bergaya Melayu adalah band asal Bandung, ST 12.

ST 12 mengusung genre musik Melayu bukan karena minim kreativitas. Menurut Dedy Sudrajat alias Pepeng, salah seorang personil dari trio ST 12, musik melayu itu merupakan ciri khas Indonesia.

“Kenapa harus dikotak-kotakkan? Nggak beralasan menilai aliran Melayu jelek. Kalau memandang seperti ini, kenapa musik dangdut nggak dilibas sekalian? Standar bermusik itu nggak ada, saat kita menawarkan sesuatu yang baru malah dihina dan dihalang-halangi,” sergah penggebuk drum ST 12 ini di Jakarta, Jumat (8/5).

“Yang jelas, ST 12 akan selalu berusaha meningkatkan kualitas dalam bermusik,” lanjutnya. “Apapun kata orang, kita bisa membuktikan pasar kita,” timpal Muhammad Charly van Houten, sang vokalis.

Hal senada juga dituturkan oleh biduan Ussy Sulistiawaty dan grup vokal Mahadewi. Ussy tidak merasa banjirnya musik bernuansa Melayu sekarang ini sebagai suatu masalah.

“Mereka yang tidak suka jenis musik tersebut hanya karena termakan gengsi,” kata Ussy seperti yang dimuat dalam www.celebrity.detikyogyakarta.net.

Sementara Mahadewi, duo vokal didikan pentolan grup musik ternama Dewa 19, Ahmad Dhani, dengan tegas menyatakan bahwa musik Melayu adalah musik asli Indonesia. Ahmad Dhani sendiri, sebagai penggagas terbentuknya Mahadewi, baru-baru ini menawarkan lagu terbarunya yang sangat berciri Melayu, berjudul “Madu Tiga”.(ad)

 

 

Posting Terkait