MENYAMBUT PEPARNAS XIV-2012 DI RIAU Mereka adalah Sang Juara Sejati

282 views
PEKANBARU (RiauInfo) – Nama Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) mungkin masih terdengar asing di telinga banyak orang di negeri ini. Padahal untuk tingkat dunia, Paralimpik merupakan ajang olahraga terbesar dunia kedua setelah Olimpiade. Sebab itu, sudah semestinya pula Peparnas ini menjadi pesta olahraga terbesar kedua setelah PON yang baru saja diadakan di Provinsi Riau ini.

Lantas apa yang membedakan antara PON dan Peparnas?. Atlet atau dalam ajang Peparnas disebut Paralimpian adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mulai dari anggota tubuh yang tidak lengkap karena amputasi atau bawaan sejak lahir hingga yang memiliki kecacatan intelektual. Semua keterbatasan tersebut diklasifikasikan secara lengkap dalam beberapa bagian yang dinilai dari klasifikasi medis hingga fungsional.

Seperti juga Paralimpik yang diadakan usai Olimpiade di kota yanga sama, maka sebagai tuan rumah PON 2012, Riau juga otomatis menjadi tempat penyelenggaraan Peparnas XIV. Event ini akan dibuka besok Minggu (7/10) oleh Wakil Presiden Boediono di Stadion Kaharudin Nasution, Rumbai, Kota Pekanbaru. Sedangkan acara penutupan rencananya akan dilakukan di Gelanggang Remaja, Jalan Sudirman.

Peparnas kali akan mempertandingkan 11 cabang, yakni angkat berat, atletik, boling, bulutangkis, catur, futsal, panahan, renang, tenis, tenis meja, dan bola voli. Jumlah medali yang diperebutkan sebanyak 1.334. Sejauh ini , event olahraga penyandang cacat (difabel) tersebut akan diikuti 1.450 atlet dan 677 ofisial dari 32 provinsi. Hanya Papua Barat yang dipastkan tidak mengirimkan kontingennya. Biaya pelaksanaan Peparnas adalah dari dana APBR Riau sebesar Rp45 miliar, plus bantuan dari kemenpora Rp5 miliar. Kalau dibanding PON lalu, dana ini terhitung jauh lebih kecil.

Melihat jauh sedikit ke belakang, cikal bakal olahraga untuk kalangan difabel ini dimulai sekitar 60 tahun yang lalu, di sebuah daerah di Inggris. Seorang dokter keturunan Jerman yang tinggal di Inggris bernama Ludwig Guttman adalah orang yang berperan penting dalam olahraga khusus untuk kaum difabel ini. Ketika itu, pasien Guttman yang terdiri dari veteran maupun orang-orang yang terluka pada Perang Dunia II, menganjurkan olahraga sebagai terapi untuk meningkatkan kualitas hidup para pasiennya.

Di tahun 1948, dokter yang berpraktik di Stoke Mandeville Hospital di Aylesbury, Inggris ini menyelenggarakan Lomba Kursi Roda Internasional yang diadakan bertepatan dengan Olimpiade yang saat itu diselenggarkan di London. Mimpinya adalah untuk menciptakan sebuah kompetisi olahraga berskala internasional untuk orang-orang berkebutuhan khusus.

Mimpinya menjadi kenyataan 12 tahun kemudian, tepatnya pada Olimpiade Musim Panas di Roma tahun 1960. Ketika itu, 400 atlet dari 23 negara bertanding di sini. Sementara itu, keikutsertaan atlet dalam Olimpiade Musim Dingin baru dimulai pada Olimpiade Musim Dingin Swedia tahun 1976. Tidak hanya atlet berkursi roda, atlet lain yang memiliki keterbatasan fisik pun diundang untuk bertanding dalam ajang ini. Sejak saat itu, pesta olahraga untuk kaum difabel ini diselenggarakan secara rutin di waktu yang bersamaan dengan Olimpiade.

Nama Paralimpik sendiri baru digunakan pada tahun 1988 di Olimpiade Seoul. Nama tersebut berasal dari bahasa Yunani, ‘para’ yang berarti di samping atau berdampingan. Penggunaan nama tersebut merujuk kepada waktu pelaksanaan yang dilaksanakan secara paralel dengan Olimpiade. Atau kalau di tingkat nasional berdampingan dengan pelaksanaan PON.

Namun sangat disadari, gaung Peparnas ini jauh dibawah gelaran PON kemarin. Media-media juga seperti kurang bergairah memberitakannya. Padahal, banyak makna positif dan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari gelaran Peparnas ini. Salah satunya, bagaimana saudara-saudara kita yang ditakdirkan dengan kondisi mereka saat ini, tapi tak patah semangat untuk meraih prestasi, khususnya di bidang olahraga. Mereka tak menjadikan takdir itu sebagai alasan memupus harapan dan semangat. Hal ini yang patut menjadi contoh bagi kita. Tidak salah kiranya kita luangkan waktu untuk melihat mereka berlomba dan bertanding. Karena sesungguhnya mereka inilah yang pantas disebut sebagai Sang Juara sejati. (Asril darma/berbagai sumber).

Posting Terkait