Merevitalisasi Budaya Melayu Melalui Sastra

127 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Seminar Internasional bertajuk ”Kebangkitan Sastra Melayu” sebagai rangkaian perhelatan Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) ke-II 2008 yang berlangsung selama dua hari (16-17 Desember 2008) di Wisma Senggarang, Tanjungpinang, mengingatkan kembali pentingnya fungsi dan peran sastra Melayu sebagai salah satu kekuatan dalam pembentukan karakter masyarakat Melayu, menuju tercapainya kegemilangan tamadun Melayu. 

Revitalisasi itu merupakan upaya menghidupkan kembali, yang dalam konteks tema seminar RBM ke-II ini adalah upaya pemberdayaan sastra Melayu.”Upaya pemberdayaan sastra Melayu, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan upaya pemberdayaan perempuan Melayu,” kata Prof. Dr. Meutia Hatta, keynote speaker seminar, yang kemudian disambut gelak tawa para hadirin.

”Karena perempuan, sebagaimana juga sastra, pada dasarnya mempunyai peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat. Pemberdayaan sastra merupakan sebuah proses yang harus terus-menerus dilakukan agar sastra Melayu itu tetap hidup, berkembang, dan tetap berarti bagi pembentukan tamadun Melayu,” tambah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI tersebut.

Sementara itu, Prof. Dr. Edi Sedyawati, menyatakan bahwa tradisi Melayu adalah tradisi sastra. Ia adalah hasil kristalisasi sosial yang berakar pada budaya Melayu dan tumbuh sebagai pohon rindang yang mengayomi dunia Melayu.

”Istilah sastra Melayu mengandung pengertian pada semua karya sastra yang berbahasa Melayu, baik yang tertulis maupun lisan, yang terdapat di sejumlah negara berbahasa Melayu, di antaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan sebagian Thailand,” papar Guru Besar Universitas Indonesia (UI), yang dalam kesempatan tersebut mempresentasikan makalah berjudul ”Sastra Melayu dalam Tinjauan Budaya”.

Lantas, bagaimana agar supaya kesusastraan Melayu itu dapat bangkit, sebagaimana tajuk seminar ini? ”Tulislah dan persoalkan banyak hal,” kata Dr. Tommy Christomy, dosen UI, kepada MelayuOnline.com. Yakni diperlukan dinamisasi sastra Melayu, yang tidak hanya menumbuhkembangkan budaya tulis-menulis tapi juga menumbuhkan budaya apresiasi terhadap karya-karya dalam kesusastraan Melayu.

Di samping itu, Mahyudin Al Mudra, SH., MM., pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Yogyakarta, melalui makalah berjudul ”Revitalisasi Pantun Melayu; Memangku Tradisi Menjemput Zaman” menjelaskan bahwa revitalisasi budaya Melayu salah satunya dapat dimulai melalui revitalisasi pantun Melayu.

Hal itu dimungkinkan mengingat di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pantun merupakan alat berkomunikasi, berekspresi, berpikir, dan juga menjadi alat yang menuntun orang Melayu dalam berperilaku. “Revitalisasi pantun berarti menghidupkan kembali fungsi-fungsi pantun Melayu sebagai alat berpikir dan sarana membentuk kepribadian masyarakat Melayu,“ ujar pendiri situs MelayuOnline.com, WisataMelayu.com, dan RajaAliHaji.com tersebut.

Dalam makalahnya, Mahyudin Al Mudra menawarkan empat cara untuk melakukan revitalisasi pantun, yaitu redefinisi pantun, keberpihakan politik, penggunaan teknologi, dan penelitian secara antropologis-sosiologis, sehingga masyarakat Melayu dapat merumuskan agenda kerja untuk merevitalisasi pantun. “Ini gambaran bahwa budaya lisan harus dihidupkan kembali.

Hanya saja, bagaimana kita memolesnya agar dekat dengan kondisi saat ini. Selain itu, yang perlu direvitalisasi adalah masyarakat Melayu itu sendiri. Harus ada proses pemulihan mentalitas dan kesegaran kehidupan masyarakat yang menjadi bumi tempat berkembangnya ekspresi budaya Melayu,” ujarnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh Hj. Suryatati A. Manan (Walikota Tanjungpinang) dan Hj. Aida Ismeth Abdullah (Anggota DPD RI) tersebut, juga menampilkan narasumber lain yaitu Prof. Dr. Abdul Hadi WM., Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Suwardi Ms, Dr. Bisri Effendi, Tommy F. Awuy, Al Azhar, Elmustian, Rida K. Liamsi, Jan Van der Putten (Belanda), dan Roosden Suboh (Malaysia).(ad)

 

Posting Terkait