Penting, Keterlibatan Pemerintah dalam Preservasi Tradisi Lokal

656 views

SOLO (RiauInfo) – Tidak semua tradisi lokal ditinggalkan oleh masyarakatnya. Di beberapa tempat di Indonesia, tradisi lokal tetap terjaga dan dipraktekkan oleh pemiliknya. Namun perlu dicatat bahwa kelestarian tradisi memiliki ketergantungan dengan kondisi lingkungan masyarakatnya.

Jika kondisi hutan atau laut, misalnya, masih terjaga keasriannya, maka tradisi yang hidup di kawasan itu cenderung eksis, karena antara lingkungan yang melahirkan tradisi dengan tradisi yang bersangkutan masih dapat berinteraksi secara alamiah. Lain halnya apabila alam telah rusak, maka harus ada strategi tertentu untuk menjaga kelestarian tradisi lokal.

Hal itu dinyatakan oleh Dr. Pudentia, MPSS, Direktur Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) ketika menjadi pembicara pada International Workshop “Safeguarding for Intangible Cultural Heritage” Among Indonesia, Malaysia, and Singapore, di Hotel Sahid Jaya, Solo (Sabtu, 31/05/08).

Pembicara lain di sesi kedua pada internasional workshop itu adalah Prof. Dr. Chua Soo Pong, Guru Besar Chinese Dance Institute of Singapore. Pada kesempatan tersebut, Chua Soo Pong memberikan contoh beberapa seni pertunjukan di beberapa negara, seperti di Korea, Cina, dan Vietnam yang mampu bertahan dan diminati oleh masyarakat sekitar karena terus disesuaikan dengan kondisi zaman.

“Seni pertunjukan yang tetap eksis di beberapa negara tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal suatu masyarakat tidak serta merta ditinggalkan oleh pemiliknya, meskipun terdapat penetrasi budaya asing yang begitu kuat. Hal itu terwujud karena semua pihak, baik itu pemerintah atau masyarakat pemilik tradisi tersebut bekerjasama menjaga kelestarian tradisinya” jelas Chua Soo Pong.

Ketika ditanya oleh Mahyudin Al Mudra (Pemimpim Umum MelayuOnline.com), apakah kegiatan seni pertunjukan dapat dijaga kelestariannya tanpa orientasi ekonomi, Chua Soo Pong menegaskan kembali bahwa pemerintah harus ikut campur dalam melestarikan tradisi-tradisi lokal, karena kegiatan pelestarian tradisi memerlukan pendanaan yang cukup besar.

Senada Chua Soo Pong, Pudentia menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan seni pertunjukan yang dilakukan oleh pemiliknya perlu mendapatkan dukungan dana yang cukup. Kalau tidak, maka lambat laun kesenian itu akan ditinggalkan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan materi pelakunya.

Oleh karena itu, lanjut Pudentia, ATL terus melakukan pendampingan dan pengelolaan tradisi lokal. Hal serupa juga dilakukan oleh MelayuOnline.com dengan cara melestarikan tradisi melalui teknologi informasi. Dengan demikian, kelangsungan hidup tradisi-tradisi lokal tetap berlanjut.(ad/rls)

Posting Terkait