Pesona Pantai Pink (di Labuan Bajo Komodo) Memukau Dunia 

941 views

imageMelancong ke Labuan Bajo,  Komodo? Hmmmm, pasti menarik dan penuh kesan. Rugi,  jauh jauh ke tanah Flores jika hanya melihat Komodo. Bagusnya bikin juga foto keren di Pulau Padar, kemudian  berenang, snorkling dan diving di Pantai Pink. Lokasinya di Loh Liang, masih di kawasan Taman Nasional Komodo. Jangan lupa, bermain dengan Manta jika menyelami  bawah laut Pantai Pink. Seru sekali. Beri Manta makan ikan segar ya…

Patrice Luciane, gadis berkulit putih, bermata biru, berdarah Lisabon yang lahir di  Larantuka  27 tahun silam, menuliskan kalimat itu di wall Facebooknya, kemarin. Spontan, penuturan mahasiswi program doktoral di La Trobe, Melbourne, Australia itu direspon teman temannya.

“Pantai Pink? Wow, saya tak akan lupa.  Pantai yang unik. Saya akan selami bawah laut pantai itu, sehabis foto foto prewedding di Pantai Pink,” balas Irena, teman kuliah Patrice yang sedang liburan di Labuan Bajo, bersama tunangannya.

Kini Irena  sedang tawar menawar sewa kapal di Labuan Bajo. Pakai kapal khusus ke Pantai Pink, kata Irena, lebih nyaman agar banyak lokasi wisata lain bisa ditengok.

Pesona Pantai Pink memang, tak terbantahkan. Walau letaknya masih di kawasan Taman Nasional Komodo, tetapi petugas taman nasional meyakinkan, komodo tidak suka ke Pantai Pink, mungkin karena ke daerah itu susah dapat makan. Sejatinya Komodo lebih suka ke lokasi  habitat rusa, babi hutan, kerbau, serangga dan reptil lainnya di alam yang relatif lembab dan banyak pohon.

Karenanya,  walau Pantai Pink  belum dilengkapi tempat berteduh, toh  ramai saja wisatawan mengunjungi pantai itu. Ada yang sekedar berjemur menghitamkan badan di  pantai, ada juga yang snorkling.

Kini,  berkat promosi dari mulut ke mulut didukung beragam status  promosi di media sosial,  Pantai Pink menjadi primadona dunia.  Bahkan tak sedikit wisman yang baru beberapa saat menikmati alam Pulau Dewata Bali, sudah buru buru terbang ke Labuan Bajo Komodo, lalu  sewa speedboat  ke Pantai Pink. “Bali sudah terlalu ramai untuk sekedar beristirahat di pantai kuta. Di Pantai Pink, saya dapatkan suasana yang sangat pribadi. Saya suka.” cerita seorang wisman cantik asal Jerman.

Areal pantai itu   cukup luas dan landai. Berpasir halus dan ada juga  yang berkerikil. Uniknya, pasir pantai yang halus dan pantai berkerikil, semua berwarna merah muda. Bila mendekati senja dan disirami  cahaya matahari yang akan tenggelam, warna pantai menjadi dominan merah muda. Itu sebabnya masyarakat  Flores, khususnya yang tinggal di Labuan Bajo, Manggarai Barat menyebutnya Pantai Merah. Turis asing menyebutnya  Pink Beach.

image

Sekitar 5 – 15  meter dari bibir pantai, lautnya  kehijau hijauan, bagus dijadikan lokasi snorkling.  Lebih dari 15 meter, warna lautnya berubah  biru pirus. “Itulah lokasi penyelaman terbaik di Labuan Bajo Komodo,” tutur Marthen Malau,  petugas Taman Nasional Komodo. Alam bawah laut Pantai Pink tak kalah  menariknya. Terumbu karangnya tampil dalam beragam bentuk, begitu juga spesies ikannya. Salah satu spot penyelaman  menarik di kedalaman 10 meter, ditandai dengan terumbu karang berbentuk kipas,  lebarnya 3 meter, berwarna keperak perakan dengan kombinasi hijau, dihiasi banyak ikan batu  warna warni.

Spot penyelaman unik lainnya, di kedalaman 20 meter, ditandai dengan banyaknya Manta, sebutan warga Labuan Bajo Komodo untuk  ikan pari raksasa. Karena sudah sering bertemu banyak penyelam,  pari itu selalu bersahabat dengan  penyelam baru.

imageMenurut Daeng Sangkala, orang Bugis Makassar, nakhoda kapal  phinisi Nusantara 3  di Labuan Bajo, rata rata penyelam jika ingin ke  bawah laut Pantai Pink, selalu bawa bekal ikan layang, tembang atau kembung sekitar 2 – 3 kg. Ikan segar banyak dijual di pasar ikan  Labuan Bajo. “Penyelam  bawa ikan itu ke dalam laut untuk makanan  pari raksasa. Bila diberi makan, penyelam bisa  menyentuh  pari tersebut.” Ujar Daeng Sangkala.

Irena  juga menyiapkan banyak ikan layang untuk dibawa ke bawah laut  Pantai Pink. Dia   menyewa kapal kayu dilengkapi 4 kamar tidur dan sebuah sekoci. Hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam  pelayaran, kapal pun  tiba di tempat tujuan. “Perairan Labuan Bajo sedang sangat tenang ketika kami tinggalkan menuju Pantai Pink.” Jelas  David, tunangan Irena.

Begitu mendekati pantai Pink, crew kapal menurunkan sekocinya untuk ditumpangi Irena dan rombongannya ke daratan. Kapal tak boleh langsung menepi ke pantai, juga tak boleh lego jangkar di sekitar pantai, agar dampak perputaran baling baling kapal tidak menimbulkan arus yang bisa merusak sedimen terumbu karang di sekitar pantai. Akibatnya kapal berlabuh  100 meter dari pantai.

“Setelah bikin foto  prewedding, kami pun snorkling dan menyelam. Woow, luar biasa, ikan segar yang saya bawa dalam plastik langsung diserbu pari yang bodinya lebar lebar. Saya sempat bikin foto sambil kasih makan seekor pari raksasa. Senang sekali walau sempat deg degan juga…” Ujar Irena sambil memeluk calon suaminya, Seorang pria keturunan Israel yang pernah tinggal dan bekerja di Denpasar.

Irena menghabiskan waktu 4 jam berenang, snorkling dan menyelami alam bawah laut  Pantai Pink. Dia  masih ingin lebih lama lagi berada di tengah kerumunan  pari raksasa, tetapi sang tunangan mengingatkan  masih perlu  bikin foto prewedding tambahan di Pulau Padar.

Pesona pulau  Padar bisa dilihat di puncak bukitnya. Selain panorama alamnya eksotis, Pulau Padar tampak indah dengan tiga pantainya yang  mirip   danau tiga warna di Ende. Bedanya, air danau tiga warna disekitar Gunung Kelimutu, Ende  itu  berwarna merah, hijau dan putih, sedangkan air laut tiga pantai Pulau Padar kehijau hijauan, namun  tenang sekali sehingga menyerupai lagoon. Lokasi itu kerap jadi latar belakang pemotretan wisatawan.

Baru baru ini sejumlah wartawan dari Tiongkok diundang Kementerian Pariwisata  melakukan Famtrip di Labuan Bajo, sempat foto bersama di lokasi itu. Mereka mengaku terpukau dengan eksotisnya keindahan alam Pulau Padar.  Irena dan tunangannya juga bikin foto prewedding di puncak bukit Padar, berlatar belakang pemandangan tiga pantai dan laut lepas yang biru. Dan, dalam beberapa menit kemudian, foto prewedding Irena  sudah terpampang di instagramnya. Tak pelak  rekan rekannya di Australia memberi pujian dalam beragam ucapan. Banyak juga yang tanya dimana lokasi  pemotretan  cantik itu. Irena pun menjawab,  di Labuan Bajo, tepatnya di bukit Padar Taman Nasional Komodo.

Setelah itu rombongan Irena lanjut mengunjungi Pulau Rinca,  menyaksikan dua ekor Komodo, sedang mencabik cabik daging kerbau. Biawak raksasa yang keberadannya dilindungi itu selalu menyita perhatian dunia, karena habitat asli Komodo hanya ada di  Taman Nasional Komodo. Tetapi Irena tak ingin lama disitu. “Saya jijik melihat liur komodo yang sangat beracun itu. Makanya saya ingin lekas ke tempat lain,” jelas Irena dengan muka masam.

Marthen sempat bertanya  apakah Irena sudah menyelami bawah laut Labuan Bajo? Ketika Irena menggelengkan kepala, Marthen mengingatkan alam bawah laut Labuan Bajo sudah mendunia karena ada taman lautnya yang indah, dipenuhi bentuk bentuk unik terumbu karang dan spesies ikan batu yang lucu. “Sebelum menyelami kedalaman laut Pantai Pink,biasanya turis menyelami dulu bawah laut Labuan Bajo. Pesonanya menakjubkan,” ujar Marthen yang  sebelum diangkat menjadi petugas  Taman Nasional Komodo sempat lama menjadi pemandu wisata di Labuan Bajo.

Marthen cerita, selama menjadi pemandu wisata, dia sudah mengunjungi hampir semua obyek wisata bahari  di Indonesia.  Marthen pun bangga menjadi warga pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, karena potensi wisatanya berpotensi mendapat nilai tertinggi. “Tanah Flores ini sedikitnya punya dua lokasi wisata yang dilindungi  dunia, yaitu Komodo dan danau tiga warna di Ende. Belum lagi atraksi tradisi perburuan paus di Lamalera,Lembata. O, menarik sekali,” Lanjut Marthen Malau yang dibenarkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Theodorus Suardi.

Setelah merampungkan jadwal wisatanya ke Pantai Pink, Pulau Padar dan  Rinca, Irena dan rombongan kembali ke Labuan Bajo. Sebelum terbang  ke Australia melalui Denpasar, dia ingin menyelami dulu pesona bawah laut Labuan Bajo. Sang tunangan pun mendukung, lalu mengecup lembut bibir Irena.

Pintu Gerbang

Labuan Bajo menurut Theodorus Suardi adalah pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.  Dulunya Labuan Bajo hanya kota kecamatan Komodo, kini jadi ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Tidak seberapa  luas, dan dengan jumlah penduduk 84.481 jiwa (hasil sensus 2010) serta luas daerah hanya 10,77 km2, terasa sekali padarnya kota yang memiliki 3 kecamatan dan 12 kelurahan ini. Penduduknya campuran Jawa, Bugis, dan Flores.  Labuan Bajo juga punya banyak  lokasi wisata bahari, diantaranya pantai Pede, Pulau Bidadari, Batu Gosok Kanawa,  Gua Batu Cermin dan lokasi wisata Wae Cicu. Dari semua itu, kata warga setempat, alam bawah laut Labuan Bajo paling disukai. Itu sebabnya setiap ke Labuan Bajo, turis selalu menghabiskan waktunya di bawah laut. Menyelam.

imageIndahnya alam bawah laut Labuan Bajo sudah bisa ditebak dari pelabuhan. Perhatikan saja warna lautnya kehijau hijauan dan bening seperti kaca. Jika sedang tidak ada angin dan ombak,  mata bisa leluasa memperhatikan  biota lautnya —  juga bentuk terumbu karangnya yang indah.  Pemda pun rajin mengingatkan semua pihak merawat keindahan bawah laut Labuan Bajo. Kapal  layar dan sejumlah Yacht dari berbagai negara, tidak boleh sembarangan buang jangkar. “Pemda  sudah menyediakan pelabuhan khusus untuk sandar. Begitu juga kapal kayu yang sering dicarter turis ke Pulau Komodo, Rinca atau lokasi wisata lainnya, dilarang lego jangkar di perairan yang terumbu karangnya harus dirawat bersama. Kapal kapal juga tidak boleh buang sampah dan minyak di laut,  agar alam bawah laut Labuan Bajo terjaga kecantikannya,” tutur Teodorus Suardi.

Labuan Bajo memang kota kecil tetapi pada saat libur panjang, kunjungan  wisman meningkat. Mungkin itu sebabnya, kota ini punya banyak biro perjalanan yang menjual paket tour ke sejumlah tempat unik  di Flores, termasuk ke desa wisata Wae Rebo di Ruteng dan   perburuan paus di Lamalera.

Kini Labuan Bajo  ditetapkan pemerintah pusat menjadi salah satu diantara 10 destinasi wisata unggulan. Pemerintah akan menata lebih profesional potensi kepariwisataan daerah ini, agar dalam waktu relatif singkat mampu menjadi destinasi wisata kelas dunia. Jika setiap tahunnya sekitar 100 ribu wisman berkunjung ke Labuan Bajo, Pemerintah Pusat menargetkan pada 2019  menjadi  500 ribu.

Berkait dengan itu beragam usaha diterapkan, termasuk baru-baru ini menggelar Tour de Flores, event gabungan olahraga balap sepeda dan wisata yang diyakini Menpar Arief Yahya  akan menunjang kelancaran arus Wisman ke Labuan Bajo. Pemerintah pusat juga akan mengelola kawasan wisata terpadu dan mengajak pihak asing bekerjasama memajukan kepariwistaan daerah ini.  Bandara Labuan Bajo Komodo misalnya, statusnya  ditingkatkan menjadi bandara Internasional sehingga pada saatnya nanti pesawat berbadan lebar bisa mendaratkan banyak wisman.

Patrice Luciane yang separuh usianya dihabiskan di Labuan Bajo pernah meneliti kemungkinan daerah ini menjadi destinasi wisata dunia. Hasil penelitiannya dituangkan menjadi reportase bersambung di surat kabar terbitan Kupang, Jakarta dan Australia. Tulisannya itu mendapat pujian Gubernur NTT dan Menteri Pariwisata (saat itu) Mari Elka Pangestu. Patrice yakin, Labuan Bajo Komodo tidak sulit dijadikan destinasi wisata kelas dunia.  Masyarakat NTT  di Australia juga mendukung  usaha pemerintahan Presiden Joko Widodo  memajukan Flores barat   dari sektor wisatanya. “Saya pribadi, tiap hari promosikan pesona wisata  pulau Flores melalui medsos di Australia. Minggu ini saya focus promosikan pesona alam Labuan Bajo. Saya lakukan itu karena saya ingin melihat Labuan Bajo lebih maju lagi.” lanjut Patrice sembari mengunci bincangan  melalui  skipe ini.(Herman Ami)

Posting Terkait