POTENSI MICE SULAWESI UTARA BELUM DIOLAH MAKSIMAL

674 views

esthyJAKARTA (Riauinfo) – SULAWESI UTARA simpan potensi destinasi MICE yang luar biasa, namun hyinga kini belum diolah secara maksimal. Hal ini terungkap dalam acara “Forum Sulawesi Utara” yang digagas oleh NSTB (North Sulawesi Tourism Board) dan Dinas Pariwisata Propinsi Sulawesi Utara didukung oleh Kementerian Pariwisata serta Dinas Pariwisata Sulawesi Utara. Acara yang diadakan di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata Minggu lalu itu dibuka oleh Esthy Reko Astuty,Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara.

Hadir antara lain para PCO (professional conference organizer), korporasi pemerintah dan swasta, lembaga negara, berbagaia sosiasi professional dan hobby. Mereka adalah para ujung tombak MICE, serta pembuat keputusan terkait pelaksanaan MICE di perusahaan. Kelompok kini diharapkan bisa ikut mempromosikan Sulawesi Utara sebagai destinasi untuk kegiatan perusahaan terkait meeting, incentive, conference and exhibition.

Dalam arahannya Esthy mengemukakan bahwa “Kementrian Pariwisata RI mendukung Sulawesi Utara sebagai salah satu dari 16 destinasi utama MICE.”Sulawesi Utara dalam hal ini Kota Manado, masih merupakan destinasi potensial MICE. Dalam rangka menuju destinasi MICE yang existing sekaligus untuk menunjang upaya pencapaian target 20 juta wisman dan 275 juta pergerakan wisnus pada tahun 2019, perlu dilakukan kajian dan evaluasi kapasitas MICE di Propinsi Sulawesi Utara terutama SDM yang berperan penting di dalamnya.

Berdasarkan laporan theTravel & Tourism Competitiveness Index 2015 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum; Indonesia kini menduduki peringkat ke-50 dari 141 negara, atau melompat 20 peringkat dari sebelumnya. Padatahun 2019, Kementerian Pariwisata mentargetkan Indonesia dapat menduduki peringkat ke-30.

Hal ini tentu saja dapat terjadi melalui pengembangan sector pariwisata serta infrastruktur penunjangnya, dengan melibatkan seluruh stakeholders kepariwisataan yang olehEsthy disebut dengan istilah Penta-helix yaitu Akademisi, Pengusaha, Pemerintah di tingkat Pusat maupun Daerah, Media, serta Komunitas.

Selain Esthy, acara ini juga diisi dua pembicara lain yakni Widijanto selaku Executive Director NSTB serta Joy Happy Korah, sebagai Kadispar Sulut. Dalam kesempatan ini Widijanto mempresentasikan perkembangan MICE di Sulawesi Utara. Ia mengatakan bahwa kegiatan MICE di Sulawesi Utara sudah mulai dari 2009, namun harus terus dikelola dengan serius agar tumbuh secara signifikan.

Menurut Widijanto salah satu kekuatan Sulawesi Utara saat ini adalah keberadaan The Coral Triangle Initiative (CTI) Secretarial Office, yang merupakan kelanjutan Coral Triangle Intiative pada 2009 sebagai salah satu cikal bakal MICE di Sulawesi Utara. CTIadalah sebuah lembaga kerjasama internasional yang awalnya beranggotakan 6 negara, Indonesia, Malysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste.

Sejak awal CTI didukung Amerika Serikat dan Australia, belakangan ikut bergabung Brunei Darusalam. Berkantor pusat di Manado, organisasi Negara-negara ini berusaha menjaga kelestarian extraordinary marine and coastal resources. Isu penting yang ditangani antara lain food security, climate change and marine biodiversity . Bagi peminat MICE di Manado dapat menjadikan CTI sebagai destinasi menarik tentang corral reef & fishery.

“Berkunjung ke Manado, minimal Anda perlu 3 hari untuk bias merasakan keistimewaan provinsi ini,” ujar Widijanto. Hari pertama pengunjung bias menikmati city tour, mengunjungi patung Yesus Memberkati yang dikenal sebagai Kristus Kase Berkat dalam bahasa Manado. Pilihan lain adalah mengunjungi pusat belanja di Mall GKIC City Walk, Menado Town Square, serta Mega Mall. Bisajuga Main Golf di GKIC Golf Course atau sekedar bersantai menikmati senja hari di pantai Boulevard yang menghadap ke Pulau Manado Tua di Bunaken.

Hari kedua pengunjung bis menikmati diving, “Anda bisa seharian menghabiskan waktu dan tetap merasa kurang,” ujar Widijanto. Ia kemudian menjelaskan 3 area diving yang ada di Manado. “Anda bias kekawasan Lembeh untuk menikmati muck diving, kawasan selam yang dangkal berpasir namun dipenuhi hewan-hewan laut yang eksotik,” jelasnya.

Pilihan kedua adalah menyelam di Mahangetang, tempat adanya underwater giant volcano.Gunung apiraksasa bawah laut ini berdiri setinggi 10.000 kaki atau lebih dari 3.000 meter. Puncaknya berada 1.380 meter di bawahpermukaanlaut.Satupilihanlagiadalahmenyelam di BunakendanSiladen, tempat terakhir ini sangat popular sebagai lokasi untuk wall diving,menikmati dinding palung laut dalam.

Pada hari ketiga pengunjung bias mengunjungi Tomohon. Di kota ini diadakan festival bunga tahunan yakni setiap bulan Juni – Juli. Tidak jauh dari situ terdapat Danau Tondano yang menyejukkan. Waruga adalah spot kunjungan yang juga rugi untuk dilewatkan, di sini terdapat artefak peninggalan jaman megalitikum. “Saya juga sarankan untuk mengunjungi Woloan, pusat kerajinan rumah kayu, Anda bias membeli rumah dan memboyongnya kemana suka, sebab rumahnya dirancang knock down, bias dibongkar-pasang,” ujar Widijanto.

Sebelum menutup pembicaraan, Widijanto masih berusaha menggambarkan kelezatan kuliner aseli Manado. “Anda bias temukan sea food yang segar dan penuh cita rasa, selain itu ada klapertaart yang berkelimpahan buah kelapa, pala dan kenari dalam aneka rasa. Selain itu telah dibangun Grand Kawanua Boulevard yang juga menyatu dengan Ring Road baru sedang dirampungkan untuk menghubungi sebagian besar Sulawesi utara sehingga travelling time menjadi singkat dan mudah menghubungi Manado yang pusatnya di Jalan Maramis dan Grand Kawanua Boulevard keseluruh pusat pariwisata baik Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Bitung,Tondano dan sebagainya. Selamat Datang di Manado,” katanya mengundang. (Ami Herman)

Posting Terkait