Riaupulp Ajak LKD Olak dan Segati Study Banding Kearifan Lokal

127 views
news6154PEKANBARU (RiauInfo) – Sebagai wujud kepedulian dan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar operasionalnya, PT. Riau Andalan Pulp And Paper (Riaupulp) mengajak Lembaga Konservasi Desa (LKD) Olak, Sei Mandau, Kabupaten Siak dan Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan melakukan studi banding ke Hutan Ulayat Buluhcina.

Hutan yang dijadikan tempat studi banding itu mempunyai areal seluas 1000 Ha dengan delapan danau didalamnya terletak di Desa Buluh Cina, Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar, Sabtu (16/8) lalu.

“Study Banding ini sebagai upaya kita untuk mendapatkan pencerahan dan meningkatkan pemahaman pentingnya menjaga hutan. Saat ini di beberapa desa sekitar operasional perusahaan, Riaupulp telah membentuk beberapa Lembaga Konservasi Desa (LKD) untuk sama-sama menjaga hutan alam (areal konservasi) sesuai dengan pengaturan Tata Ruang Pembangunan HTI, ujar Inra Gunawan, Integrated Conservation Management Head Environment Fiber Riaupulp.

Lebih lanjut, Inra menjelaskan, sesuai dengan peraturan pemerintah kepada pemegang IUPHHTI, diwajibkan untuk mengalokasikan areal konservasi 10% dari luas konsesinya. Sejalan dengan konsep keberlanjutan perusahaan (Sustainability) dengan Triple of Buttom Line 3P (People, Planet and Profit) saat sekarang Riaupulp telah mengalokasikan areal konservasinya 23% (Planet) dari luas konsesi yang terdiri dari dari Riparian, Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah, Areal Sumber Daya Genetik dan Areal Kelerengan > 40%.

Study banding Kearifan Lokal menjaga hutan merupakan salah satu dari program LKD agar masyarakat memahami pentingnya menjaga hutan sehingga mendapatkan manfaat dari hutan atas akses pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) yang telah dibuka oleh perusahaan kepada masyarakat sekitar hutan, ujarnya.

Tentu dalam pemanfaatannya ada aturan mainnya seperti hanya masyarakat yang tergabung kedalam LKD yang diizinkan masuk ke areal konservasi, hanya anggota/pengurus LKD yang telah terigestrasi yang dibolehkan untuk pemanfaatan HHNK dan masyarakat juga diwajibkan untuk melakukan pengkayaan /penanaman ulang jenis lokal atau jenis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sejauh merupakan MPTS (Multy Purpose Trees Species) serta masyarakat diwajibkan menjaga areal konservasi perusahaan.

Diharapkan setelah studi banding ini, masing-masing LKD akan melakukan pengkayaan/penghijauan di areal konservasi yang rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab seperti pelaku perambahan dan illegal logging, terang Inra.

Sebelum memasuki kawasan hutan seluas 1000 Ha, peserta studi banding dapat menyaksikan pemukiman khas melayu hingga berjalan sejauh 1 km untuk mencapai pinggir hutan. Pohon-pohon hutan di dominasi oleh Pohon-pohon rawa. Jenis Rengas (Gluta renghas) dengan ukuran besar, diperkirakan berusia ratusan tahun kerap ditemui. Selain itu jenis-jenis rotan dengan jumlah yang luar biasa sering ditemui. Semakin jauh kedalam jalan-jalan setapak tampak bersih menandakan hutan sudah mencapai suksesi primer.

Uniknya ada beberapa danau di dalam kawasan hutan ulayat. Danau-danau tersebut secara geologi disebut danau ox-bow atau danau tapal kuda, terbentuk secara alami dari proses perubahan alur sungai.

”Di kawasan danau ini masayarakat diperbolehkan untuk memancing ikan karena memang potensi ikannya juga ada, tetapi tidak diperbolehkan untuk meracun, motas, nyetrum, atau nuba. Barangsiapa yang melakukan pelanggran akan dinai sanksi adat dan dilaporkan ke polisi”, ujar Ralis, Kordinator SATGAS Pengamanan Hutan Ulayat.

Keunikan hutan dan danau serta kearifan masyarakat Buluhcina dalam mengelola hutan ulayat mengantarkan pada penghargaan Satya Bumi dari Gubernur Provinsi Riau.(ad/rls)


Posting Terkait