Strategi Budaya Solusi Penyelesaian Masalah Sosial Ekonomi dan Globalisasi

image

JAKARTA (RiauInfo) – Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) binaan pengusaha dan politisi Pontjo Sutowo, kembali menggelar Diskusi Panel Serial (DPS) ke-11 bertema  “Tantangan Masa Depan”. Dalam diskusi yang digelar di Jakarta Convention Center, Sabtu  hadir sebagai pembicara Laksda TNI Asc Prof. Dr. A. Yani Antariksa SE, SH, MM dari Lemhanas dan Prof. Dr. Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitaas Indonesia Hadir pula  Ketua YSNB Iman Sunario, Mantan Panglima TNI Jenderal Purn Djoko Santoso dan pengamat ekonomi makro HS Dillon.

Pontjo Sutowo dalam sambutan pembukaan diskusi mengemukakan sudah menjadi rahasia umum jika pada saat ini peperangan yang berlangsung di dunia, terjadi karena perebutan sumber daya alam. Hal ini membuat sebuah negara harus mampu mengelola sumber daya alamnya, agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya sekaligus menghindari serangan negara lain untuk menguasai sumber daya alam yang ada. Karena itu diperlukan kepaduan antara pemerintahan dan masyarakat untuk saling bahu membahu mewujudkan keadilan sosial dan kemandirian negara agar masalah sosial, ekonomi, dan politik dapat diatasi.

Sayangnya kepaduan tersebut ternyata jauh panggang dari api. Menurut Presiden Republik Indonesia, ada tiga problem pokok bangsa ini dalam mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan politik, yakni merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional, dan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

Dengan problem itu, bangsa Indonesia harus bangkit dan menerapkan strategi kebudayaan sehingga mampu mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan politik, juga mampu mengatasi tantangan global yang ada baik dari ledakan informasi, ekonomi global, serta kompetisi internasional seperti perebutan pasar melalui sistem trans national corporation.

Menurut A. Yani Antariksa, berdasar data Labkurtannas-Lemhannas RI (2015) Sosial Budaya menduduki Indeks Ketahanan Nasional paling rendah. Urutan Indeks Ketahanan Nasional dari yang tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut. Demografis (1), Hankam (2), SKA (3), Ekonomi (4), Geografis (5), Politik (6), Ideologi (7), Sosbud (8). Rendahnya Sosial Budaya di Indonesia tersebut, menyebabkan kurangnya kepatuhan pranata sosial/hukum, kurang keteladanan pemimpin, penegakan hukum belum maksimal, dan generasi muda kurang tertarik sejarah dan ideologi. “Karenanya, saat ini diperlukan semangat nasionalisme baru, memantapkan wawasan kebangsaan, penguatan pelayanan sosial, merawat keragaman masyarakat dan kebudayaan serta penguatan kualitas dan kompetensi pemuda, agar ia dapat menjadi driver dalam membangun kemandirian bangsa dan sebagai antisipasi terhadap pengaruh globalisasi,” kata A. Yani Antariksa.

Sementara itu menurut Bambang Wibawarta, Human Capital Index Indonesia di Asean turun menjadi 69 di tahun 2015 dari sebelumnya ranking 53 di tahun 2013. Demikian pula Global Competitiveness Index Ranking Indonesia turun tahun 2015-2016 menjadi 37 dari sebelumnya ranking 34 tahun 2014-2015. Kenyataan itu mengartikan saat ini Indonesia kehilangan daya saing dan akan lebih sulit menghadapi globalisasi. Untuk itu maka diperlukan strategi kebudayaan untuk dapat dijadikan benteng dalam menghadapi segala tantangan bangsa yang ada.

“Strategi kebudayaan bisa berarti ganda. Pertama, strategi pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Kedua, strategi sebagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik, untuk menghadapi proxy war dan neocortical war yaitu cara perang tanpa penggunaan kekerasan,” kata Bambang Wibawarta. 

Pontjo Sutowo berharap strategi budaya   harus dilakukan segera oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun  luar, karena strategi budaya bisa membangkitkan  kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. “Hanya dengan itu, kita akan survive”, kata Pontjo Sutowo. (Herman Ami)

Posting Terkait