Warga Pekanbaru Enggan Beli Beras Operasi Pasar

511 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Meski dijual dengan harga miring dibandingkan di pasaran, namun ternyata beras Operasi Pasar Disperindag Pekanbaru kurang diminati warga. Soalnya beras operasi pasar tersebut berkualitas sangat rendah dan banyak kutunya, sehingga masyarakat Pekanbaru merasa ragu untuk mengkonsumsinya. 

Beberapa warga yang ditemui RiauInfo Minggu (15/4) menyayangkan sikap dari Disperindag yang menjual beras berkualitas buruk tersebut. “Tolong hargai kami donk. Masak beras seperti itu masih dijual,” ujarnya.

Dia mengatakan, kalau dilihat secara seksama, beras tersebut tidak mungkin dikonsumsi karena kondisinya buruk sekali. “Dari pada makan beras seperti itu, mendingan makan singkong saja,” ungkapnya jengkel.

Kasi Perlindungan Konsumen Disperindag Pekanbaru yang juga koordinator pelaksanaan Pasar Murah, Helmi tidak membantah bahwa minat masyarakat Pekanbaru membeli beras OP rendah.

Hal ini, menurut dia, bisa dilihat seringnya berlebih beras yang ditawarkan kepada warga saat operasi pasar. “Dari beberapa kali kami melakukan operasi pasar, berasnya selalu berlebih,” ungkap dia.

Dia membantah beras yang ditawarkan dalam operasi pasar itu berkualitas rendah. Tapi yang benar kualitasnya medium atau menengah. “Beras berkualitas medium itu kami datangkan dari Lampung,” jelasnya.

Hanya saja karena selama ini masyarakat Pekanbaru sudah terbiasa mengkonsumsi beras dari Sumatera Barat yang berkualitas lebih baik, makanya mereka melihat beras operasi pasar tersebut jelek.

Dikatakannya, memang seharusnya beras yang ditawarkan pada operasi pasar ini menggunakan beras yang biasa dikonsumsi masyarakat. Tapi harga beras dari Sumatera Barat tersebut tidak terjangkau oleh Disperindag.

Dijelaskannya, di pasaran beras asal Sumatera Barat dijual dengan harga Rp6.500/kg. Sedangkan beras Lampung harganya cuma Rp5.700/kg yang kemudian dijual melalui operasi pasar menjadi Rp43.000 per 10 kg.

Dengan demikian setiap kilogramnya pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp1.400/kg. “Tapi seandainya kami menggunakan beras asal Sumatera Barat, sudah tentu subsidinya yang harus ditanggung pemerintah jadi lebih besar,” tambahnya.(Ad)

Posting Terkait